Yuk, Melejit Bersama ASUS VivoBook Ultra 15 OLED (K513)!

 

ASUS OLED


Fiersa Besari dengan Bukan Lagu Laptop Biasa langsung muncul di home YouTube tanpa saya mengetik di kolom pencarian. Kerjaan cache kan, ini… soalnya sebelum itu saya meluncur ke tautan ASUS OLED Writing Competition yang dibagikan Dewi Rieka di WAG Ruang Aksara.

Ya Allah, Fiersa bikin saya pengen punya ASUS OLED... pengen banget. Ini laptop yang saya cari selama ini.

Laptop, Senjata Utama Penulis dan Penerjemah

Membaca dan menulis saya akrabi sejak kanak-kanak. Tulisan pertama saya dimuat di harian Surabaya Post, koran lokal saat itu, ketika saya masih kelas 6 SD. Tahun 1991. Teman-teman Pembaca, sudah lahir belum, saat itu? :P Meski tidak sempat menyimpan dokumentasinya, saya ingat banget. Tulisan itu pendek saja, berjudul Hadiah Istimewa, bercerita tentang usaha seorang kakak membuat boneka dari kain flannel untuk adiknya yang berulang tahun.

Tulisan pertama itu dimuat di rubrik Calon Pengarang, yang muncul setiap hari Minggu. Rubrik itu adalah ruang berlatih menulis bagi anak-anak. Sama dengan rubrik Arena Kecil dan Tak Disangka di Majalah Bobo.

Menulis sebagai hobi dan penyaluran energi kreatif berlanjut ketika saya masuk SMP. Dua kali cerita saya dimuat di Majalah Mentari (grup Jawa Pos). Meski masih anak-anak, saya sudah menulis cerita anak seperti yang ditulis oleh penulis dewasa (menurut PBB/Unicef, usia di bawah 18 masih anak-anak, ya).

Rasanya bangga sekali, ketika honor dari redaksi dikirim via wesel pos ke alamat sekolah, yang tidak jauh dari kantor redaksi Majalah Mentari.

 

Bapak kepala sekolah mengapresiasi karena saya berhasil menembus media. Saat itu, literasi baca-tulis di negeri ini belum semaju dan semasif sekarang.

Bagaimana cara saya menulis naskah pada masa itu? Saya pakai mesin ketik manual milik Bapak. Itu, lho, yang bunyi jeglek-jeglek kalau ditekan tuts-nya :D berisik, sampai bisa bangunin orang tidur (kecuali yang kebluk :P)

Tahun 1990an, komputer pribadi (desktop PC) masih jadi barang mewah di Indonesia. Keluarga kami pernah punya komputer jadul dengan monitor tabung warna putih tulang yang kusam itu. Dalam kenangan saya, PC itu juga bisa dipakai nonton TV. Sesuatu yang menakjubkan di mata saya yang masih pre-teen. Saat itu, warga yang punya pesawat TV juga wajib bayar iuran TV. Setelah TV biasa kami berganti komputer yang dipakai Bapak bekerja dan juga kami pakai nonton aneka tayangan, kami terbebas dari kewajiban bayar iuran.

Memasuki SMA, saya masih menggunakan komputer jadul, meski menulis hanya untuk majalah sekolah (majalah cetak 4 bulanan dan majalah dinding/mading).

Ketika kuliah, kebutuhan mengetik meningkat. Saya belum sempat berkarya lagi untuk media massa, karena banyak tugas kampus yang harus dikumpulkan dalam bentuk paper yang diketik rapi.

Lalu karena suatu musibah, kami harus merelakan hilangnya komputer milik keluarga. Ini pukulan yang cukup berat buat saya, yang sangat bergantung pada komputer.

Syukurlah, pada masa itu (1997-2001), bertaburan jasa pengetikan dan penyewaan komputer di kota saya. Apalagi di sekitar tempat tinggal kami, yang cukup dekat dengan kampus B Unair—hanya 10 menit jalan kaki, dengan lalu-lintas kendaraan yang tidak sepadat sekarang.

Keberadaan rental komputer ini sangat membantu mahasiswa seperti saya—apalagi teman-teman yang anak kos. Kalau mau praktis, minta diketikkan saja dengan ongkos rata-rata Rp 1.000 – 1.500 per halaman, sudah termasuk biaya cetak sekitar Rp 200 – 500. Lebih hemat kalau ngetik sendiri, hanya bayar seribuan per jam, dapat 4-5 halaman (bisa lebih, kalau ngetiknya kilat).

Luar biasa, ya, peran teknologi informasi dalam kehidupan manusia.

Saya juga mulai senang menerjemahkan teks dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Sejak remaja saya suka bacaan berbahasa Inggris yang disediakan Bapak dan Ibu. Kalau anak sekarang sudah diajarkan bahasa Inggris sejak TK, saya baru mendapatkannya di bangku SMP.

Di kampus, saya mencoba kemampuan penerjemahan dengan menerima tawaran dari teman-teman dan dosen. Banyak kan, jurnal-jurnal yang harus dipelajari, dan rata-rata berbahasa Inggris. Inilah awal perjalanan menjadi penerjemah yang di kemudian hari saya tekuni secara serius.


Gimana cara saya nerjemahin order dari sesama mahasiswa dan dosen? Masih nge-rental, dong. Jadi, bayaran penerjemahan dipotong ongkos nge-rental, itulah penghasilan bersih saya ketika kuliah, selain dari mengajar les anak-anak SD.



Setelah meninggalkan kampus, saya tidak bergabung dengan teman-teman yang bekerja sebagai paramedik veteriner. Saya masih asyik dengan aktivitas mengajar yang lekat dengan dunia anak, juga melanjutkan hobi sejak kecil: menulis cerita. Bergaul dengan para bocah dan menemani mereka belajar membuat cerita-cerita yang saya tulis mengalir seperti air.

Masa itu, laptop mulai populer di kalangan masyarakat, menggantikan desktop PCLaptop jelas lebih praktis, sesuai dengan aktivitas manusia yang semakin mobile, juga ramah lingkungan karena konsumsi dayanya hanya ¼ dari seperangkat desktop PC. Fakta ini saya ketahui dari buku nonfiksi anak bertopik green living yang saya terjemahkan.

Tahun 2007 saya memutuskan untuk menjadi penerjemah, selain tetap menulis cerita anak di majalah MombiGirls, dan Bobo.


Mulai banyak orang yang mampu membeli komputer jinjing a.k.a laptop, membuat rental komputer banyak yang tutup. Saya belum mampu beli laptop, jadi masih menyewa di rental komputer yang masih buka. Kalau rentalnya tutup, saya pindah ke warnet (warung internet) yang saat itu masih menjamur.

Berbekal flashdisk saya berkeliling dari rental ke rental, dari warnet ke warnet. Banyak kendala selama bekerja tanpa fasilitas memadai. Mulai dari flashdisk yang kena virus sampai harus diformat berkali-kali, atau ditungguin deadline pas hujan deras dan saya gak bisa pergi.


Pada akhirnya rental komputer tutup karena pelanggannya sudah pada punya laptop—kecuali saya, hiks. Jumlah warnet pun semakin berkurang. Namun, Allah memberi jalan keluar. Masjid tempat saya aktif menjadi relawan dan jamaahnya, meminjamkan komputer. Bukan pinjam untuk dibawa pulang, ya. Saya dipersilakan pakai komputer masjid untuk urusan pekerjaan pribadi.

Kadang kalau lagi deadline dan kemalaman, saya terpaksa ‘nginap’ di masjid, sampai shalat subuh ikut berjamaah di masjid (biasanya shalat subuh di rumah aja). Alhamdulillah, ini jauh lebih baik daripada nge-rental sampai larut malam. Karena nggak jarang, di rental saya ketemu pengunjung yang lagi mabuk atau merokok dengan asap rokok memenuhi ruang. Serem :(

Pernah, Mbak Triani Retno, salah satu penulis favorit saya, dicurhati calon penulis yang mengeluh tidak punya laptop. Beliau menyebut nama saya, ‘Lihat tuh, Maharani Aulia, belum punya laptop tapi bisa berkarya.’ (Nama saya di Facebook jadi biru-biru kalau di-mention). Jadi malu :P


Saya terus berusaha untuk punya laptop sendiri.


Aktivitas saya di masjid sebagai relawan, jamaah, sekaligus peminjam komputer, rupanya menarik minat seorang wartawan untuk memprofilkan saya. Sebagai introvert, sebetulnya malu banget dipublikasikan seperti itu. Si wartawan bilang saya inspiratif. Apaan sih (dia kan cuma memenuhi tugas menyerahkan tulisan ke kantor saja).

Gimana nggak malu, kalau foto saya dimuat di halaman feature lembar Metropolis. Setelah koran itu beredar, saya malah ngumpet, nggak berani ketemu orang. Juga sejenak absen dari aktivitas mengetik di masjid. Sungguh, saya nggak nyaman jadi omongan orang meski dalam konteks yang positif.


Tapi, rupanya ada hikmah di balik itu. Bu Yuyun, orang tua murid saya, membaca saya di koran, lalu bertanya, ‘Mbak Lia kalau kerja, butuhnya ngetik-ngetik aja, ya? Atau perlu pakai program atau aplikasi apa?

Saya jawab, ‘Iya, Bu. Ngetik aja, kok. Cuma butuh word processor.’

Mbak, ini bapaknya Roffi ada laptop sisa proyek. Kalau mau, buat Mbak Lia aja. Cuma buat ngetik, kan?

Itulah perkenalan saya dengan laptop. Tahun 2012, laptop bekas hadiah dari Bu Yuyun itu pun sudah jadul. Saya konsultasikan si laptop ke teman yang jago IT, dan dia bilang apa?


 'Lumayan ini. Masih bisa buat kerja. Tapi saranku kayak teman Mbak Lia yang lain. Belilah laptop baru, soalnya laptop ini nggak bisa dipakai internetan. Harus pakai usb router buat nangkep sinyal.’


Saya bertahan dengan laptop itu, meski agak bersusah-payah. Selain harus pakai usb router untuk kebutuhan online (mengirim naskah via email, berselancar mencari informasi, nonton YouTube, dll), beratnya bikin pegal kalau dibawa backpacker-an. Pernah numpang nimbang di timbangan laundry kiloan, beratnya 2,3 kg :P (iseng banget).

Lalu bagaimana dayanya? Hanya beberapa bulan laptop ini bisa bertahan dengan baterainya, selama 15 menit. Setelah itu, charger harus nancep ke power strip, kalau nggak mau tiba-tiba off ketika kerjaan sedang genting-gentingnya.


Kondisi Masa Pandemi dan Tantangan Pekerjaan

Keterbatasan itu semakin lengkap ketika tahun lalu—saat wabah Covid-19 sedang begitu mencekamnya—usb router patah. Laptop tidak bisa lagi dipakai online. Kalau naskah butuh segera dikirim via email, saya harus menransfer file word dari laptop ke hp pakai kabel data. Tidak praktis dan tidak efisien.

Sebetulnya, work from home (WfH) sudah saya jalani sejak dulu karena saya bukan orang kantoran alias freelancer. Tapi bukan berarti perubahan akibat pandemi tidak saya rasakan. Gimana enggak? Seminar offline berubah jadi webinar dan kursus tatap muka berubah menjadi kelas daring via WhatsApp Group. Iya, kalau fasilitas memadai sih, asyik aja ikut webinar ini-itu.

Kalau lihat serunya teman-teman mengikuti berbagai kegiatan itu, saya hanya bisa menelan ludah. Laptop saya nggak bisa dipakai internet, kan… mana bisa saya merasakan keseruan itu :( Saya hanya bisa nonton rekamannya di YouTube. Tentu rasanya beda dibanding bisa berinteraksi dua arah dengan para mentor di webinar.

Paling pol, saya ikut kelas dan diskusi via WhatsApp Group (WAG). Memang lumayan daripada tidak bisa online samasekali, tapi interaksi via WAG ini juga bukan tanpa kendala. Terlihat online karena sedang menyimak materi penting, bisa saja menimbulkan prasangka kalau saya tidak segera membalas pesan WA yang masuk. Misalnya, chat dari Ibu yang tinggal di kota yang berbeda. Saya nggak mau buang waktu untuk iseng cari tahu bagaimana caranya online di WA tanpa terlihat online.

Pernah saya beberapa kali ikut webinar dengan hp, tapi hp jadi cepat panas dan baterai cepat drop. Belum lagi kelelahan mata minus 4 ½, yang sudah saya rasakan sejak remaja. Mata kelelahan kalau menatap layar LCD hp maupun laptop selama beberapa jam nonstop. Kalau sudah parah, saya bisa sampai kena vertigo karena kelamaan menatap layar hp dan laptop.

Yang bikin sedih juga, ketika datang tawaran untuk menjadi mentor menulis, saya terpaksa menolaknya.

😭

ASUS VivoBook Ultra 15 OLED (K513) Menawarkan Banyak Kesempatan untuk Mengembangkan Diri

Saya tidak mau jalan di tempat alias nggak maju-maju. Saya harus berkembang, harus lebih baik. Ilmu dan keahlian di dunia penulisan itu dinamis.

Dulu, saya menulis cerita dan mengirimkan naskah ke redaksi media atau editor di penerbit, sudah deh. Perkara gambar ilustrasi, itu urusan ilustrator dan editor.

Tapi, beberapa tahun belakangan saya tertarik mempelajari penulisan buku cerita bergambar (picture books). Saya jadi tahu bahwa saya bertanggungjawab atas ilustrasinya juga. Kasih deskripsi yang detail biar ilustrator bisa menggambar dengan baik.

ASUS OLED

Karikatur saya digambar oleh Diyan Bijac
, 2015


Menulis picture books ternyata membuat saya harus paham juga soal grafika: ukuran buku, proporsi gambar, tata letak, dan jenis serta ukuran font. Teman-teman penulis banyak yang mulai menguasai keterampilan itu. Bahkan, mereka mulai belajar mengilustrasi juga. Siapa sih yang nggak pengen mengembangkan potensi diri?

Untuk itu, saya membutuhkan fasilitas yang lebih baik. Dan, ASUS OLED menjawabnya.

Kalau laptopnya ASUS OLED, pasti lebih semangat belajar... karena senjatanya bagus, rasa percaya diri juga meningkat. Kerjaan lebih lancar.

Kenapa harus ASUS OLED?

Dua tahun belakangan, saya juga mulai belajar blogging. Saya ikut kelas Ruang Aksara-nya Dewi Rieka (Dedew). Kalau Dedew pakai ASUS, muridnya pasti yakin dong, laptopnya bisa diandalkan untuk berkarya dengan lebih produktif.

Laptop ASUS dengan teknologi layar OLED-nya bagai kanvas digital yang leluasa sebagai media corat-coret.. pasti oke banget untuk latihan menggambar.

Dengan ASUS OLED, kesempatan belajar seperti ini tidak akan saya lewatkan lagi (Foto: Instagram Mantox Studio)

Kalau saya masih baru belajar corat-coret, gimana dengan teman-teman ilustrator? Mereka yang menggambar ilustrasi cantik untuk buku-buku saya, kayaknya perlu saya rekomendasikan laptop ASUS OLED juga deh.

Kenapa?

Warnanya lebih kaya dan akurat

ASUS OLED diciptakan untuk profesional yang membutuhkan layar dengan tingkat reproduksi warna yang tinggi dan akurat, sesuai standar industri perfilman saat ini. Sehingga, ASUS OLED mampu mereproduksi 100% warna pada color space DCI-P3 atau setara dengan 133% warna pada color space sRGB. Kemampuan ini membuat ASUS OLED dapat menampilkan visual dengan warna yang lebih kaya dan detail yang lebih baik.

ASUS OLED

Tingkat reproduksi warna yang tinggi akan percuma jika tidak dibarengi dengan tingkat akurasi warna yang tinggi pula. Setiap laptop yang menggunakan teknologi layar ASUS OLED telah dikalibrasi sejak awal sehingga dapat menghasilkan warna yang sangat akurat. ASUS OLED juga memiliki standar kalibrasi warna yang tinggi dan telah mendapatkan sertifikasi PANTONE Validated Display.

Nah, cocok banget nih buat ilustrator saat me-revisi gambar untuk menghasilkan karya terbaik.

Apa lagi?

Tampilan Tetap Jernih Meski Tingkat Kecerahan Rendah

Kalau pakai laptop LCD, detail dan kualitas warna biasanya menurun drastis saat kecerahan dikurangi. Namun, ASUS OLED mampu menampilkan detail luar biasa meski kecerahan rendah. Itu karena kontrasnya tinggi dan kemampuannya mempertahankan gamut warna yang lebar pada kecerahan rendah.

ASUS OLED menggunakan 3D color gamut sebagai referensi. 3D color gamut menambahkan faktor iluminasi untuk mengukur color volume secara keseluruhan dan ASUS OLED memiliki color volume 60% lebih besar  dibanding layar laptop pada umumnya.

ASUS OLED

Pilihan Tepat untuk Content Creator

Pekerja kreatif seperti ilustrator dan content creator lainnya membutuhkan laptop dengan layar berkualitas. Soalnya, kualitas konten yang dihasilkan dipengaruhi kemampuan reproduksi warna di layar laptopnya. Menggunakan layar laptop berkualitas rendah dan tidak dikalibrasi dapat membuat video yang telah diolah menjadi berbeda tampilan warnanya ketika diputar di perangkat lain. Bisa juga membuat foto dan gambar ilustrasi berubah warna saat dicetak.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Detik Network bekerjasama dengan ASUS, 9 dari 10 content creator dan pakar di Indonesia mengakui bahwa ASUS OLED mampu menghadirkan kualitas visual yang lebih baik saat digunakan untuk menikmati hiburan digital.

Content creator sangat membutuhkan layar laptop yang memiliki standar industri perfilman dan telah dikalibrasi.

Ah, saya jadi ingat dulu ketika nge-print naskah picture books saya. Dari ilustrator ngirim file ke saya, bilangnya gambar sudah oke (komposisi warna dll). Kenapa ketika dicetak jadi berubah warna dan nggak tajam? Kalau pakai ASUS OLED, kejadian kayak gini nggak ada lagi.

Back to writing activity. Ada apa saja pada laptop ASUS OLED yang penting bagi penulis?

Gratis Office Home & Student 2019 Seumur Hidup

Aplikasi Office yang lengkap tentu bikin tenang dan nyaman saat bekerja. Kalau sewaktu-waktu datang lagi tawaran menjadi menjadi mentor menulis, mau bikin presentasi pakai PowerPoint ya ayo aja.

Dengan 100% aplikasi Office asli, software akan terus mendapatkan pembaruan keamanan yang rutin untuk melindungi perangkat, program, dan data saya.

Impian ikut residensi penulis ke luar negeri pun kembali terbit, bebas dari rasa waswas bakal kena razia oleh petugas imigrasi di bandara karena pakai software bajakan.

 

Spesifikasi Modern

Laptop ASUS OLED sudah diperkuat oleh prosesor Intel Core generasi ke-11 terbaru (Tiger Lake) yang menghadirkan keseimbangan performa dan responsivitas dalam platform berdaya rendah yang dibuat berdasarkan teknologi proses 10nm generasi ketiga.

Dengan AIPT (ASUS Intelligent Performance Technology), performa VivoBook Ultra 15 OLED (K513) meningkat hingga 40% dibanding laptop dengan spesifikasi serupa. AIPT juga merupakan solusi hemat daya. Menggunakan algoritma eksklusif ASUS dikombinasikan dengan 5 sampai 9 sensor pintar, desain kipas IceBlades aerodinamis dan catu daya 65 watt, kinerja CPU meningkat dengan stabil, sekaligus memungkinkan masa pakai baterai sepanjang hari. Laptop lebih tenang dan nggak cepat panas.


Asyik kan, kerja jadi lebih fokus tanpa harus nyolokin charger ke power strip. Kalau sewaktu-waktu oglangan (mati listrik :P), nggak panik lagi.

ASUS VivoBook Ultra 15 OLED (K513) juga dibekali memori DDR4 RAM serta menggunakan penyimpanan berupa PCIe SSD. Penyimpanan modern ini memiliki kecepatan baca-tulis yang jauh lebih cepat daripada HDD tradisional, memungkinkan VivoBook Ultra 15 OLED (K513) memuat dan menjalankan aplikasi dengan lebih kencang.

Cocok banget buat saya dan siapapun yang suka mengoleksi file picture books yang biasanya berukuran besar (file-nya yang legal ya, berlisensi Creative Commons).

WiFi 6 dan WiFi Smart Connect

ASUS VivoBook Ultra 15 OLED (K513) menggunakan WiFi 6, teknologi WiFi terbaru yang lebih kencang dan stabil. WiFi 6 di VivoBook Ultra 15 OLED (K513) juga dilengkapi fitur WiFi Smart Connect, yang memungkinkan sistem untuk memilih dan terkoneksi dengan router yang memiliki sinyal paling kuat secara otomatis. Dengan demikian, kita akan selalu dapat sinyal WiFi terbaik.

Wow.. bakal tambah rajin kerjanya kalau jaringan internetnya cepat. Ngirim naskah ke redaksi media massa, ke penerbit, dan ke panitia lomba bisa sambil merem 😆

ASUS OLED membuatku yakin bisa mewujudkan mimpi

Ringan, Praktis Dibawa Ke Mana Pun 

Dengan bobot hanya 1,8 kg dan profil supertipis, ASUS VivoBook Ultra 15 OLED (K513) bikin saya fleksibel kerja di mana saja: di rumah, perpustakaan, masjid, taman kota, kafe, co-working space... di mana aja deh.

Dibawa backpacker-an, nggak bikin pegal pundak dan punggung. Sip, kan.

ASUS OLED

#SeeTheDIFFERENCE and #ExperienceTheDIFFERENCE with ASUS OLED. This is REAL!

Meski bagi saya aktivitas menulis dan menerjemahkan adalah hobi (yang dibayar), jiwa ini juga butuh hiburan kan... Dengan ASUS VivoBook Ultra 15 OLED (K513) saya bisa puas nonton film box office favorit dengan pengalaman baru yang berbeda.

Nonton film tidak hanya untuk hiburan, tapi juga mencari inspirasi dan ide-ide segar untuk menulis cerita.

Nah, tontonan digital yang formatnya HDR itu dapat kita nikmati dengan sempurna. Itu karena ASUS OLED telah bersertifikat VESA DisplayHDR True Black dan mampu menghasilkan warna dengan rasio kontras hingga 1.000.000:1.

Laptop ASUS OLED mereproduksi warna hitam dengan sempurna. Piksel OLED terdiri dari tiga sub-piksel, masing-masing dengan iluminasi yang dihasilkan sendiri: layar 2,8K (2880 × 1800) memiliki 5.184.000 piksel, yang berarti memiliki 15.552.000 sub-piksel yang menyala sendiri, dibanding dengan hanya beberapa lusin.

Saat menampilkan warna hitam pada layar OLED, piksel dimatikan begitu saja untuk menghasilkan warna hitam paling gelap. Hal ini memungkinkan gambar yang sangat tajam dan jelas, bahkan dalam pemandangan yang paling gelap. Wow! Banyak detail baru yang selama ini tak terlihat di film favorit kita.

ASUS OLED
Jadi pengen nonton Black Beauty (2020). Shio kuda sukanya nonton film bertema kuda, eh :P

Buat teman-temanku yang suka nonton film laga dengan banyak adegan gerak visual cepat, ASUS OLED juga andalan. Dilengkapi response time sangat kencang hingga 0,2ms atau 50 kali lebih kencang dibanding layar laptop biasa, nggak ada lagi efek blur.

ASUS OLED

Jangan sampai juga, keasyikan nonton film bikin mata lelah. Eh, tenang aja. Kualitas visual terbaik ASUS OLED memanjakan sekaligus menjaga kesehatan mata.

Kok bisa?

ASUS OLED Mengurangi Paparan Radiasi Sinar Biru

ASUS OLED memiliki fitur Eye Care yang dapat menurunkan tingkat paparan radiasi sinar biru pada layar hingga 70%. Jadi, layar ASUS OLED lebih nyaman digunakan dan menjaga kesehatan mata penggunanya.

Berdasarkan survei Detik Network bekerjasama dengan ASUS, fitur Eye Care ini dapat menjaga kesehatan mata 68,10% masyarakat Indonesia yang menggunakan laptop hingga 10 jam dalam sehari.



Sebetulnya, mengurangi paparan radiasi sinar biru dapat dilakukan dengan mengurangi tingkat reproduksi warna biru. Tapi, ini akan mengurangi tingkat akurasi warna dan membuat kualitas visual menjadi sangat buruk.

Fitur Eye Care pada ASUS OLED tidak saja menurunkan radiasi sinar biru, tapi juga mempertahankan kualitas reproduksi dan akurasi warna. Dengan menggeser spektrum biru, ASUS OLED dapat menekan radiasi tanpa mengurangi kualitas dan akurasi warna. Metode ini telah mendapatkan sertifikat Low Blue Light dan Flicker Free dari TÜV Rheinland.

Hmm... dengan laptop ASUS OLED, saya bakal betah berlama-lama di depan layar tanpa khawatir sakit mata yang biasanya berujung pada vertigo.

Pas banget sama kata Fiersa Besari:

🎶 ... Kita bisa produktif berkarya, hidup sehat juga bahagia...

Sambil nyanyi 🎧🎤🎶


Btw, saya menulis blogpost ini sambil terus memutar video Bukan Lagu Laptop Biasa. Yep, I am a musical person. Saya biasa kerja ditemani musik yang menggugah semangat.

Fiersa Besari
Tuh, kan, jadi ikut bikin sajak. ASUS OLED, my dream laptop

Sambil sesekali nengok video Bukan Lagu Laptop Biasa, jadi dapat ide suatu saat bikin musikalisasi cerita-cerita saya...

Apa yang nggak bisa, kalau kerjanya pakai ASUS OLED?

Bismillah. Saya akan berkarya dengan lebih baik lagi, sebagai bentuk rasa syukur, kalau diamanahi ASUS VivoBook Ultra 15 OLED (K513).

Bantu aminkan doa saya, ya, Teman-teman Pembaca. Terima kasih banyak.

Spesifikasi dan harga ASUS VivoBook Ultra 15 OLED (K513)

ASUS OLED

Jajaran laptop ASUS dengan teknologi layar ASUS OLED telah tersedia di Indonesia mulai dari lini ZenBook hingga VivoBook. Laptop ASUS OLED tersedia untuk berbagai kalangan dengan harga mulai dari Rp 8.599.000.

Color

Indie Black

Transparent Silver

Hearty Gold

Operating System

 

Windows 10 Home – ASUS recommends Windows 10 Pro for business

Windows 11 Home – ASUS recommends Windows 11 Pro for business

Free Upgrade to Windows 11¹ (when available, see below)

Processor

Intel® Core™ i3-1115G4 Processor 1.7-3.0 GHz (6M Cache, up to 4.1 GHz)

Intel® Core™ i5-1135G7 Processor 0.9-2.4 GHz (8M Cache, up to 4.2 GHz)

Graphics

NVIDIA® GeForce® MX350 , 2GB GDDR5

Display

15.6-inch, FHD (1920 x 1080) 16:9 aspect ratio, IPS-level Panel, LED Backlit, 300nits, 100% sRGB color gamut, Anti-glare display, Screen-to-body ratio: 85 

15.6-inch, FHD (1920 x 1080) 16:9 aspect ratio, IPS-level Panel, LED Backlit, NTSC: 45% for non-OLED, Anti-glare display, Screen-to-body ratio: 85 

Memory

8GB DDR3 on board, Memory Max Up to:16GB

Storage

512GB M.2 NVMe™ PCIe® 3.0 SSD

I/O Ports

1x USB 3.2 Gen 1 Type-A

1x USB 3.2 Gen 1 Type-C

2x USB 2.0 Type-A

1x HDMI 1.4

Micro SD card reader

Micro SD 4.0 card reader

Expansion Slots (includes used)

1x DDR4 SO-DIMM slot

1x M.2 2280 PCIe 3.0x2

1x STD 2.5” SATA HDD

Camera

720p HD camera

Audio

Audio by ICEpower®

Built-in speaker

Built-in microphone

Harman/kardon (Mainstream)

With Cortana support

Network and Communication

Wi-Fi 6(802.11ax)+Bluetooth 5.0 (Dual band) 2*2

Battery

42WHrs, 3S1P, 3-cell Li-ion

Power Supply

Ø4.0, 65W AC Adapter, Output: 19V DC, 3.42A, 65W, Input: 100~240V AC 50/60Hz universal

Weight

1.80 kg (3.97 lbs)

Dimensions (W x D x H)

35.90 x 23.50 x 1.79 ~ 1.79 cm (14.13” x 9.25” x 0.70” ~ 0.70”)

Built-in Apps

MyASUS

MyASUS Features

AppDeals

System diagnosis

Battery health charging

Splendid

Tru2Life

Function key lock

Smart WiFi

Link to MyASUS

Microsoft Office

Office Home and Student 2019 included

Regulatory Compliance

EPEAT

Energy star

Security

BIOS Booting User Password Protection

Trusted Platform Module (Firmware TPM)

Fingerprint sensor

Included in the Box

Backpack

Included accessories vary according to country and territory. Please check with your local ASUS 

Retailer for details.

Disclaimer

¹Peningkatan Windows 11 akan diberikan untuk perangkat yang memenuhi syarat di akhir tahun 2021 menjelang tahun 2022. Waktu berbeda-beda untuk setiap perangkat. Fitur tertentu memerlukan perangkat keras spesifik (lihat aka.ms/windows11-spec).

 

Gimana, Teman-teman, mau juga kan punya ASUS OLED? Segera meluncur ke https://oled.asus.web.id/?utm_source=Blogger&utm_campaign=BloggerCompetition&utm_id=BloggerCompetition untuk informasi yang lebih lengkap lagi.



ASUS OLED


Yuk, Melejit Bersama Asus VivoBook Ultra 15 (K513)!

-

Referensi:

File Google Drive dari https://bit.ly/ASUSOLED-ID

https://oled.asus.web.id

https://asus.com

-

Artikel ini didaftarkan pada ASUS OLED Writing Competition


<iframe src="https://tr.zencreators.id/banner/oled-250x250.php"  scrolling="no" style=" width: 100%; height: 250px; overflow: hidden;" ></iframe> atau <iframe src="https://tr.zencreators.id/banner/oled-728x90.php"  scrolling="no" style=" width: 100%; height: 90px; overflow: hidden;" ></iframe>

Comments

  1. Semoga berhasil membawa pulang laptop ASUS ya, dan semakin banyak karya yang akan lahir dari tangan Queen. Jangan berhenti berkarya. Semangat semangat!!

    ReplyDelete
  2. Duuuh...saya terharu baca tulisan Queen ini. Perjalanan seorang penulis (juga penerjemah) yang menjadikan kendala sebagai kekuatan. Dan soal ASUS, saya doain dirimu terus melenggang ke tangga yang membahagiakan (membanggakan, dsb). Saya padamu pokoknya....

    ReplyDelete
  3. Wah, keren kak pengalaman menulisnya, tulisan untuk lombanya juga keren. Semoga sukses ya kak..

    ReplyDelete
  4. Aku salut banget sama perjuangan mba, keren banget.. dimana ada kemauan di situ pasti ada jalan kayanya berlaku banget. Usaha nggak mengkhianati hasil memang, semangat terus mba! Semoga laptop ASUS impiannya tercapai amin

    ReplyDelete
  5. Kereeeeen mbak Aul, daebak! 🤩 Semoga Alloh hadiahkan Asus OLED ini di tahun baru.

    Dan tulisan mbak Aul sukses bikin aku baca sambil dengar lagu bukan laptop biasa dari Fiersa Besar. Mantap!

    Plus, sebagai penggiat skincare, cocok banget deh merekomendasikan Asus OLED kepada konsumen. Biar bisa online terus tanpa khawatir kena penuaan dini akibat blueray. 😍

    ReplyDelete
  6. Laptop #ASUSVivobookUltra15OLED nya cocok untuk menulis dan menerjemahkan naskah cerita bergambar (picture book). Pas banget dengan pekerjaan favorit mbak Lia. Semoga laptop ASUS-nya menjadi "Hadiah Istimewa" buat mbak Lia, seperti naskah pertama yang dimuat itu. Stay strong mbak Lia. Semangat!

    ReplyDelete
  7. Semoga dapet laptopnya, Mbak. Biar semakin banyak karyanya. Aamiin ❤️❤️

    ReplyDelete
  8. Masya Allah, ternyata karir penulis mba udah dimulai sejak kecil ya.
    Pantes bisa menghasilkan karya yang kereeen.
    Terharu saya membaca perjuangan mba.
    Semoga Allah mengizinkan mba menuliskan semuanya di Asus Oled ya.
    Sehingga bisa menebar inspirasi untuk semua orang, terutama untuk saya

    ReplyDelete
  9. minta di beliin laptop sama ayah tp blm juga acc nihh sedih banget

    ReplyDelete
  10. Luar biasa banget prestasi Mba Lia, tahun 1990 an saya juga bikin skripsi dengan mesin ketik manual, sepanjang malam tak tik tak tik ganggu temen yg lain. Tapi MasyaAllah Mba Lia sungguh luar biasa hebat dan salut aku. Semoga Asus Oled nanti bisa dimiliki menang di blog competision ini. Duh..jadi kapan ya bisa ketemu Mbak Lia... Salam hangat buat Mbak Lia , semoga sehat selalu..

    ReplyDelete
  11. Keren banget ya ASUS Oled ini mbak Lia, semoga berjodoh dengan laptop keren yaa biar kerjanya makin produktif dan lancar ya.. Laptop ASUS Oled ini layarnya lebih jernih dan cemerlang ya

    ReplyDelete
  12. Penulis dengan jam tidur yang kadang tidak tentu butuh banget Asus OLED ini ya mb aul, aku pun naksir berat. Semoga suatu hari bisa memiliki hihi.

    ReplyDelete

Post a Comment

Thank you for visiting 🌻 I'd love to hear your thoughts here