Hospital(ity)
Tahun 2001 rumah sakit dalam pandanganku adalah simbol luka yang menandai kepergian Eyang Kakung Soekirman setelah beberapa hari berjuang melawan sirosis hepatitis. Memori tentang kesakitan, perlakuan tenaga medis yang tidak ramah, sempurnalah dengan paranoia teoretis yang kuhadapi sebagai (calon) paramedis veteriner, terngiang-ngiang akan infeksi nosokomial.
![]() |
| hospital(ity) |
Namun hari ini, aku memutuskan untuk mendatangi pemicu fobia dan traumaku dengan keberanian untuk pulih.
Kota kecil penuh sejarah ini ramai sesuai skalanya, cenderung lebih tertib lalu-lintasnya, dan memberiku kenyamanan yang berbeda dibanding kota-kota lain yang aku datangi.
Aku memarkir SkyDrive di parkiran Plasa Lawu lalu jalan kaki menuju sebuah klinik yang berjarak beberapa puluh meter ke arah utara, dan melanjutkan ke tempat pemulihan ini.
Jauh kali kau parkir di situ, lalu jalan sejauh itu ke klinik dan lalu ke RS, begitu komentar seorang kawan.
Demi menikmati kota yang ramah pejalan kaki, ini caraku bersyukur punya dua kaki yang Allah berikan sehat dan kuat, mata minus yang masih awas memandang objek penanda kota dan lalu-lalang manusia, kulit yang cukup tahan sengatan Matahari Department Store, pendengaran yang menoleransi kebisingan wajar lalu-lintas, dan penciuman yang menangkap aroma jajan pinggir jalan.
Kenapa Indonesia menyebutnya rumah sakit, sedangkan Upin dan Ipin menyebutnya hospital? Karena lingkungan RS identik dengan lalu-lalang perawat dan/atau keluarga pasien mendorong brankar dengan orang sakit di atasnya? Sesuatu yang pernah menimbulkan luka di batin...
Ayo, belajar menerima apa yang tidak bisa kukendalikan (istilah yang sudah jadi kesepakatan umum).
Be positive
Energi yang kusiapkan dengan matang bersambut cuaca cerah dan keramahan petugas sejak dari tempat pertama hingga tenaga medis yang melayaniku dengan penuh empati.
Pada kunjungan pertama ini, aku mencoba mengantre pemberian obat di bagian farmasi. Aku memanfaatkan waktu menunggu dengan mengamati sekitarku. Aula dipadati tenaga administrasi, tenaga medis, pasien dan keluarganya, satu-dua penjual makanan asongan.
Satu pemandangan menarik, ada seorang perempuan muda, bercadar, gaunnya bercorak atraktif (tidak seperti perempuan bercadar lainnya yang lazim kujumpai di kota ini--gaun hitam polos dari atas ke bawah), dan sibuk dengan tripod dan teleponnya. Ia tanpa canggung menatap kamera dan mengguratkan pensil alis, dan bicara (kain cadar tampak bergerak-gerak) meski dari jarak tempat dudukku (sekitar 2 meter) aku tidak bisa mendengar apa yang diucapkannya. Hebat, dia bisa melakukan itu di tengah keramaian.
Kebisingan ruang besar ini disumbang oleh obrolan ngalor-ngidul para pengantre obat, panggilan petugas dari beberapa loket (ada yang dengan pelantang, ada yang tidak), dan dengung kipas besar di beberapa sudut.
Aku me-recharge energiku dengan susu uht rasa blueberry yang kubawa dari rumah. Kuamati pula namaku di antara nama-nama lain terpampang di layar monitor atas. Kolom nomor, nama dan kota/kabupaten, klinik, dan status obat (diproses atau menunggu panggilan).
Betapa menakjubkan teknologi memudahkan proses administrasi ini. Jauh berbeda dibanding lima belas sampai dua puluh tahun lalu..
Sebetulnya ada pilihan pengiriman obat ke alamat rumah pasien; RS bekerjasama dengan JNE untuk itu. Biaya 0 rupiah untuk pengantaran sampai 25 kilometer dan hanya tujuh ribu rupiah untuk di atas 25 km.
Kembali aku mengamati si mbak bercadar yang kuduga seorang kreator konten itu. Setelah dia memakai pensil alis tanpa canggung, dia juga randomly mengambil buku dari dalam tasnya, lalu membuka halaman-halaman buku, menunjukkannya ke kamera. Dia juga menyapa orang yang lewat di depannya, membagikan sachet entah isi apa (mungkin sample lotion) ke satu-dua orang, lalu ngobrol dengan dua perempuan bergamis hitam yang kulihat tadi di ruang dokter sesaat sebelum tiba giliranku konsultasi.
Karena mengamati perilaku unik si mbak itu, waktu tungguku jadi tidak begitu membosankan. Mungkin dia secara spontan merekam aktivitasnya seharian, apapun itu, lalu nanti setiba di rumah dia menyuntingnya dan membaginya ke beberapa kategori, who knows?
Aku berlatih untuk tidak mudah menilai orang lain. Boleh saja aku membayangkan mbak itu melakukan apa terkait perilakunya yang tampak, tapi aku harus netral. Setiap orang punya latar belakang masing-masing. Barangkali apa yang tampak aneh di mata orang lain, bagi yang bersangkutan adalah caranya memulihkan diri.
Setelah dua jam lebih, aku mendapatkan obatku. Selanjutnya aku kembali ke Plasa Lawu, dong.. kan SkyDrive kuparkir di sana. Tapi aku tidak segera pulang. Kunikmati cuaca cerah hari ini, dan aku sengaja tidak membawa jas hujan (Mei adalah musim kemarau).
Jalan-jalan ke lantai 2, lihat-lihat barang di Azko. Ingin beli rice cooker untuk mengganti yang lama (hampir setiap kali tombol cook pindah ke warm sebelum waktunya), tapi bulan depan yes, antre budget-nya 😜
Ke lantai 3, tengok CGV sedang memutar film apa saja. Oh, ada Dilan ITB 1997. Nonton ah. Tapi masih harus kutunggu dua jam lagi.
Oke, shalat dulu. Wow, Kamar mandi di sini lebih bersih dibanding plasa di seberang jalan. Ini pendapat subjektifku saat ini. Bisa saja kondisinya tidak sama lagi dalam hitungan jam, dalam pandangan orang lain.
Musalanya juga bersih. Tapi, tempat wudunya licin 😒 Alhamdulillah, habis shalat, perut lapar, makan siang dulu di food park yang satu level dengan CGV. Makanku lama, soalnya gigi berpagar 😁 mana makanannya panas dan pedas. Jadi aku baru selesai makan ketika Ariel Noah sudah main di menit-menit pertamanya.
Buru-buru ke CGV. Aku tidak pikir panjang untuk beli karcis tunai. Padahal biasanya aku suka berburu diskon, apalagi ada tawaran beli karcis via aplikasi CGV untuk hari Senin ada promo beli 1 gratis 1, dapat jagung berondong pula.
Aku senang bisa nonton dengan suasana hening seperti ini, hanya kurang dari sepuluh penonton termasuk aku. Tapi, coba bayangkan kalau kau yang jadi produser, sutradara, dan aktornya.. sedih dong, studionya sepi. Ya mau gimana lagi, ini kota kecil, para kreator dan senimannya tentu sudah paham risiko seperti ini (kecuali seperti NaWilla (2026) dan film keluarga lainnya yang didesain untuk tayang saat libur lebaran, yang ekspektasi dan realitasnya sejalan).
Alhamdulillah, sudah cukup acara hari ini, aku pulang dengan memulai proses pemulihan yang sudah terasa sejak keluar dari ruang dokter siang tadi.
"Trauma is a fact of life. It does not, however, have to be a life sentence." — Dr. Bessel van der Kolk
Pulangnya aku mampir beli sate ayam kesukaan Bapak di warung dekat kantor kecamatan. Saat makan malam, aku teringat mbak (yang kuduga) kreator konten itu, menyesal kenapa tadi aku tidak berkenalan dengannya .. siapa tahu bisa kerjasama.


Comments
Post a Comment
Thank you for visiting 🌻 I'd love to hear your thoughts here