Gramedia Digital: Klik Langganan Lagi Setelah Jeda 2 Bulan

Catatan ini sekadar dokumentasi pribadi tentang bagaimana aku menakar kebutuhan, waktu, dan dompet. Situasiku mungkin berbeda denganmu, mungkin juga sama. PIlihanku untuk membatasi diri pada satu paket saja mungkin terasa terlalu hemat bagi pelahap buku yang punya waktu luang 5 jam sehari, atau sebaliknya, empat puluh sembilan ribu rupiah tanpa diskon mungkin terasa mahal bagi yang lain. Tulisan ini bukan panduan cara berlangganan, melainkan catatan tentang bagaimana aku merayakan literasi dengan rasa nyaman.


kumpulan esai Prof Budi Darma


Ketika teman-temanku masih memakai iPusnas sebagai salah satu sumber bacaan, sekaligus banyak keluhan error kudengar dari sana-sini, aku sudah lama meninggalkannya. Males ah, harus mengantre, buku baru dan bagus kopinya sedikit, peminatnya bejibun.


Debu dalam Angin, Pratiwi Juliani

Gramedia Digital langsung bikin aku merasa menang banyak. Harga langganan 34ribuan untuk sebulan dan bisa baca banyak buku bagus tanpa error, dan interface yang nyaman di mata.





Aku dihadapkan pada tiga tawaran paket: paket fiksi, nonfiksi, atau gabungan keduanya. (Ada kategori korporat yang jelas bukan untukku). Harga fiksi sama dengan nonfiksi. Kalau mau paket premium yang bisa baca buku fiksi dan nonfiksi sekaligus, ya harganya jadi gabungan keduanya. Memangnya waktuku sebanyak apa, mau melahap semua buku dari kedua paket selama sebulan..

Jadi, saat itu aku pilih paket fiksi saja, sesuai dengan kapasitas waktu dan ritme aktivitasku. Kenyang banget baca novel-novel bagus dengan harga paket. Ini mirip dengan menggunakan internet dengan atau tanpa paket. Harga paket bisa bikin aku membaca sebanyak yang aku mau. Ya memang sih, ada buku-buku tertentu yang tidak termasuk paket (hiks.. ada beberapa di antaranya yang jadi wishlist-ku sejak lama dahulu kala 😒), dan ditawarkan dengan harga satuan. Tapi, buku-buku paketannya sudah lebih dari cukup untuk memuaskan lapar buku-ku.


eh, ada buku bestie-ku


Novel-novel sastra hasil sayembara novel DKJ, misalnya, atau Kusala Sastra Khatulistiwa, bisa kubaca dengan leluasa di Gramedia Digital. Oh ya, yang termasuk paket (hemat) itu hanya buku-buku terbitan Kompas-Gramedia. Kalau terbitan selain itu, ada harga satuannya.

Hanya yang aku agak heran, buku kritik sastra dan panduan menulis fiksi (misalnya), yang seharusnya masuk kategori nonfiksi, entah kenapa ada di paket fiksi dan bisa kubaca dalam kategori paket pilihanku.

Harmonium, kumpulan esai Prof Budi Darma, itu kan nonfiksi, kenapa masuk di paket fiksi, coba 🤔 eh tapi aku beruntung bisa membacanya di paket fiksi. Alhamdulillah.

Ada juga beberapa buku yang digratiskan dan bisa dibaca tanpa harus berlangganan (misalnya sedang tidak langganan, atau kalau dianalogikan paket internet dan nomor handphone, sedang masa tenggang).




Aku sempat jeda, tidak memperpanjang langganan pada bulan Mei dan Juni. Soalnya, aku tidak yakin punya sisa waktu untuk membuka buku (digital). Kebutuhan bacaanku sementara terpenuhi dari koleksi buku cetak di perpustakaan pribadi, atau di perpustakaan digital non-aplikasi (web-based).




Dari Fiksi ke Nonfiksi




Jeda dua bulan itu sudah cukup. Memasuki Juli, aku harus kembali. Kebutuhan riset untuk naskah yang sedang aku sunting membuatku kembali ke Gramedia Digital sebagai satu-satunya aplikasi perpustakan terbaik sampai saat ini (belum nemu pesaingnya yang lebih bagus, xixixix...).

Kebutuhan referensi membuat menu bacaanku jadi berubah total. Kalau dulu betah di dunia fiksi, sekarang aku memilih paket nonfiksi. Aku perlu memperkaya referensi, membandingkan diksi, dan melihat bagaimana buku-buku bisnis diterjemahkan dengan baik.

Ada momen entahlah 😜 saat aku memproses perpanjangan langganan bulanan, Agustus ini. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama selalu dapat harga tidak normal, kali ini harganya normal: Rp 49.000. Jiwa pemburu diskon-ku berbisik mengungkit rasa 'rugi'.

Tapi kesadaranku bekerja cepat. Harga normal itu setara dengan ngopi di kafe. Jadi, aku masih sangat beruntung dengan harga pinjam buku sekitar 17ribu rupiah per hari. Aku bersyukur karena aplikasi ini masih menjadi ruang riset yang sangat memudahkan pekerjaanku.


tentang coping mechanism

Tidak hanya untuk kebutuhan kerja, di paket nonfiksi aku juga puas membaca buku-buku pengembangan diri. Harga yang pantas untuk investasi intelektual--bahkan sangat murah dibanding manfaat besarnya.



Comments