Koleksi bukuku, kalau dihitung sejak masa kecil (tahun 1980-an), kalau utuh semua lho, ya.. ada seribuan lebih, mungkin.
Kenyataannya, koleksi bukuku tidak utuh lagi. Ada yang hilang karena kecerobohan diri sendiri, atau dipinjam orang tidak kembali (aku juga punya pinjaman buku orang lain yang sudah bertahun-tahun sih π€), atau rusak karena kena air banjir yang pernah masuk rumah atau dimakan rayap.
Dari semua penyebab itu, buku rusak dimakan rayap adalah hal yang paling menyakitkan.
Apalagi kalau buku yang rusak itu adalah bagian dari karir penerjemahanku π sedih
Buku The Familiars itu karya terjemahanku yang ke- ... aku lupa. Saat mengerjakan itu, buku terjemahanku sudah 100 judul lebih
Dulu aku berprinsip buku cetak adalah yang terbaik. Tidak akan tergantikan oleh buku digital.
Tapi kenyataan perubahan zaman menyadarkanku. Bumi semakin sesak, penghuninya dari berbagai jenis semakin banyak, buku pun terdesak. Mau mempertahankan buku cetak sebanyak apa, pada akhirnya akan tidak muat lagi tempatnya.
Salah satu risiko buku cetak yang tidak tersimpan dengan baik ya dimakan rayap. Perlahan, aku mulai menerima bacaan digital sebagai alternatif makanan jiwa.
Lalu, buku-buku yang dimakan rayap itu mau diapakan? Kalau cuma rusak pinggirnya, masih bisa dibaca bagian intinya, apa mau dibuang sekalian? Apalagi kalau buku-buku itu bagian dari riwayat karier penerjemahanku π
Bagaimana perasaanmu sebagai penyayang buku, kalau bukumu dimakan rayap?

Comments
Sekarang saatnya beralih ke digital berarti ya, semoga dengan adanya digital malah justru membantu Mbak Aulia dalam berkarirπ
Post a Comment
Thank you for visiting π» I'd love to hear your thoughts here