Naik Suroboyo Bus untuk Pertama Kali, Setelah 4 Tahun Beroperasi

Suroboyo Bus, Selayang Pandang

Kalau kulihat komentar orang-orang di media sosial tentang Suroboyo Bus, aku menyimpulkan moda transportasi ini cukup dikenal luas beyond Surabaya. Beberapa tahun lalu, seorang teman yang warga Jakarta, post berita tentang bus ini di Facebook-nya, disertai komentar positif dan pujian untuk Bu Walikota Tri Rismaharini.

Suroboyo Bus

Dulu, aku sebetulnya penasaran, ingin mencoba naik bus ini. Tapi kapan ya.. seolah tidak ada waktu untuk menyusuri jalanan Kota Pahlawan selain dengan Supra Fit kesayangan yang setia sejak 2004.

Satu hal yang identik dengan Suroboyo Bus adalah penumpang membayar ongkos dengan (sampah) botol plastik (bekas air mineral), bukan dengan uang (tunai).

Sistem pembayaran itu awalnya ditujukan untuk mengurangi sampah plastik. Itu yang dulu kupahami. Patut diapresiasi langkah Pemerintah Kota Surabaya dan Dinas Perhubungan itu.

Tapi, saat itu aku juga mikir, apa kalau tidak punya sampah plastik, harus beli air minum kemasan dulu? Bagaimana kalau seseorang sudah menjalani gaya hidup less waste dengan membawa botol minum sendiri, tapi ingin naik Suroboyo Bus?

Apa harus beli air minum dalam kemasan? Lah, kok, malah nyampah ðŸĪĶðŸŧ‍♀️


Naik Suroboyo Bus, Tanpa Rencana

Senin, 7 Maret 2022

Perjalanan ke kota plat L yang awalnya membuatku ragu, akhirnya kuputuskan harus segera. SKPI harus segera kuambil. Jangan sampai sia-sia upayaku tahun lalu mondar-mandir ke Kampus C (FKH), Kampus B (Fakultas Vokasi), balik lagi ke Kampus C (Rektorat), dan Vokasi.

Ke Polsek Gubeng, salah alamat. Diarahkan ke Polrestabes di ujung utara kota, lalu balik lagi ke kampus, balik lagi ke Jalan Sikatan.

Meski rasa lelah dan hampir putus asa sering membayangi, aku bersyukur masih Allah beri kesadaran.

Perjalanan 07/03/2022 sejak pagi dari kabupaten AE menuju kota L dengan bus eksekutif, yang membawaku ke petualangan naik bus Tayo--julukan Suroboyo Bus karena desainnya yang keren mirip dengan bus dalam film animasi favorit Arvin semasa balita.

Sore hari setelah menyelesaikan urusan di kampus vokasi dan lalu mampir KPP Gubeng (tapi urusan pajak belum bisa selesai), aku ragu ketika hendak memesan GoRide dari KPP ke Terminal Purabaya.

Tiga puluh satu ribu dari Gubeng ke Bungurasih naik GoRide, sebetulnya bukan ongkos yang mahal. Tapi dengan uang saku terbatas, aku harus berhemat seperti Ikal dan Arai saat merantau ke Jakarta dan Bogor.

Saat itulah terlintas Suroboyo Bus di pikiranku.

Tidak hanya uang saku, baterai hp juga harus kuhemat. Mau cari info rute bus saja, rasanya mau cepat-cepat..

Halte terdekat, Pemuda. Eh, tapi bus yang dari situ, tujuan ke mana? Puluhan tahun tidak naik angkutan umum massal, bikin aku lupa.

Bus ini, kan, seperti angkutan lain yang punya rute berbeda-beda untuk setiap jenisnya.. Kalau aku jalan kaki dari jalan Sumatra ke halte Pemuda, tidak terlalu melelahkan.

Oh.. kalau mau ke Terminal Purabaya, tunggu busnya di Halte Panglima Sudirman. Jalan kaki ke PangSud? Oh, aku tidak sanggup ðŸĨī duduk di dalam bus antarkota selama berjam-jam sudah melelahkan. Anyway..

Kotaku yang panas, how I miss you that much ðŸĨē

Baiklah, GoRide saja dari kantor pajak ke Halte PangSud, ya. Mas GoJek datang jam 03.29. Hanya 5 menit dari kantor pajak ke Halte. Bayar 11ribu.

Di Halte PangSud ada beberapa calon penumpang sebelum aku. Salah satunya anak SMA berseragam panjang (kerudung putih, kemeja putih, rok abu-abu panjang).

Di pikiranku saat itu, bayar ongkos Suroboyo Bus masih pakai botol plastik. But they did not bother to carry any used bottles, I guessed.

Tidak sampai 5 menit aku menunggu, bus datang. Buru-buru kutanya anak SMA itu.

'Dik, ini apa harus bayar pakai plastik?'

'Enggak, kok, Bu. Pakai QR code,' jawabnya singkat.

Alhamdulillah, aman 🙂

On board

Dulu, yang kutahu bus ini adalah bus wisata, dengan armada yang sedikit, penumpangnya pun terbatas. Dulu, bayar tidak dengan uang, melainkan botol plastik bekas air minum. Satu hal, ini membuatku salut karena tujuannya mengurangi sampah plastik. Hal lain, kenapa hanya plastik botol minum? Tidak menerima botol bekas sampo, sabun, dan lotion, misalnya.

Iya, aku paham. Barangkali dikhawatirkan masih ada sisa bahan yang bisa mengotori kabin. Kalau botol air minum, dalam kondisi kosong tidak menyisakan residu apapun.

Bagaimanapun, aku menghargai warisan Bu Risma (yang sekarang sudah jadi menteri sosial). Semoga selalu amanah dalam setiap jabatan yang diemban ya, Bu ❤

Suroboyo Bus, I'm in love with you

Aku mengambil kursi di sebelah kanan lorong. Kuamati interior kabin. Wow, aku takjub dan terbengong-bengong. Seperti biasa, gumunan. Ingin rasanya kufoto setiap detailnya, tapi guncangan di perjalanan membuat percobaan foto jadi blur.

Interior kabin kufoto dari belakang kursi pengemudi, setelah berhenti di terminal

Sebelum melewati halte berikutnya, petugas berseragam Dishub menyebut nama halte. Memberi tanda kepada penumpang yang hendak turun. Tidak ada respons, bus bablas.

Halte Santa Maria. Halte UIN Sunan Ampel. Halte apa lagi ya… aku terlalu asyik mengamati bus ini.

Petugas dengan scanner di tangannya menghampiriku untuk menarik ongkos, kucoba membuka GoPay dan pakai PayLater seperti tadi aku membayar ongkos GoRide. Tapi ternyata tidak bisa. Aku mulai panik.

Pakai apa, ya, Pak, yang bisa?

Bisa pakai Shopee.

Untunglah, ShopeePay-ku masih ada saldonya :P LinkAja-ku masih ada saldo juga, tapi sudah lama ku-uninstall.

Bus ini bertarif 5ribu sekali jalan. Lalu kulihat poster peraturan pembayaran yang baru. Kalau mau bayar dengan botol plastik, harus ditukar dulu di pos penukaran poin, untuk dikonversi menjadi poin. Hal ini untuk mencegah penumpukan (sampah) botol plastik di dalam bus. Nah, ini yang dulu kupikirkan, kalau pembayaran dengan botol akan diberlakukan selamanya.

Tapi aku kaget ketika ada seorang penumpang naik dari sekitar Wonokromo, dan menyodorkan botol plastik ke petugas. Kok, masih diterima?

Oh.. ternyata baru akan diberlakukan 2 bulan lagi

Aku tahu, pejabat membuat kebijakan itu tidak gampang. Rakyat aja mung isa maido, kira-kira begitu ya. Kebijakan bisa direvisi, seiring waktu dan perkembangan kondisi di lapangan. Mari apresiasi kemudahan yang diusahakan pemerintah untuk warganya ❤

Akhirnya, Suroboyo Bus sampai juga di terminal. Semua penumpang turun. Aku tanya petugas, bus ini berapa lama lagi akan berangkat. Dijawab 10 menit lagi.

Pak, boleh motret-motret?

Oh, silakan, Bu.

Ya ampun, bagus banget sih, bis ini. Tahu gitu, tadi berangkatnya naik ini.

Baru pertama naik, Bu?

Iya.

Wah, sayang banget. Bis ini sudah 4 tahun, lho, Bu.

Bus, penulisan dan pengucapan yang baku. Tapi pada praktiknya, orang terbiasa melafalkannya 'bis'.

Jadi, gimana dong, mengucapkan 'Suroboyo Bus'? Suroboyo-nya diucapkan dalam dialek Surabaya, bus-nya diucapkan dalam bahasa Inggris. Kira-kira begitulah.. eh tapi ya suka-suka yang bilang, sih. Mau diucapkan 'Suroboyo Bis' dengan aksen Suroboyoan juga nggak dihukum, kok ðŸĪŠ


Suroboyo Bus, belum puas aku naik hanya sekali. Tapi aku harus pulang ke Rumah Maospati. Kusimpan di sini petualangan pertama bersamamu, dengan inspirasi dari Ami yang menulis tentang bus khas kotanya, Batik Solo Trans. Terima kasih, Ami, sudah mengajari aku cara resize foto dengan paint, sehingga ketajaman foto masih nyaman dipandang dengan ukuran yang Google friendly 😆

Surabaya ðŸĶˆðŸŠ 'til we meet again. Secara de jure, aku masih wargamu.

Tunggu aku di kunjungan selanjutnya, aku berusaha menjelajah setiap sudutmu, dalam sisa umurku, dalam keadaan sehat sejahtera. Amiin.

Kulanjutkan perjalanan pulang dengan bus patas Sugeng Rahayu yang sepanjang perjalanan memperdengarkan lagu-lagu berbahasa Inggris (bukan lagu-lagu Melayu 1990-an seperti saat berangkat tadi pagi).


Comments

  1. Aku sering baca di blognya bbrp teman kalau dulu emang pembayaran bus ini pakai botol plastik bekas ya mbak? skrg udah cashless ya, tapi tarifnya lebih mahal dari transjakarta ya, transjakarta cuma 3500 hihihi, kalau sebelum jm 7 pagi malah cuma 2rb, aku kalau brgkt kerja jm 6 naik transjakarta dr bekasi cuma 2rb wkwkw.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah murah banget ongkos TransJakarta ya.. 3 tahun lalu pas ada undangan di Jakarta, teman2 dari berbagai daerah banyak yg naik, tapi aku gak sempat..

      Delete
  2. Ceritamu asyik banget Mbak Lia. Sekarang terjawab ya mbak pertanyaanmu, ada alternatif lain selain bayar pakai botol plastik. Btw, semoga bermanfaat sharingnya. Senang kalau bisa bermanfaat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nulis post ini karena terinspirasi blogmu, dik Ami ❤

      Delete
  3. Wah seru naik busnya, mbak Lia. Bayarnya juga praktis, bisa pakai QR code. Kalau ke Jakarta, coba naik Trans Jakarta, mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keliling kota naik TransJakarta ditemenin mbak Tyas.. asyiiik

      Delete
  4. uda beberapa tahun di surabaya tapi aq belum pernah naik bus surabaya ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perlu dicoba, enak banget busnya, bersih, petugas sopir dari Dishub nyetirnya enak, nggak ugal2an, helper (semacam kondektur) yg memproses pembayaran juga ramah

      Delete
  5. Dulu aku sempat mau kuliah di Surabaya, udah keterima, tapi bingung kalo ke kampus itu naik apa dari terminal Purabaya. Nanya-nanya orang yang kukenal, jawabnya cuma bisa naik gojek. Langsung aku mengurungkan niat buat kuliah di sana. Nah sebetulnya untuk rute Bus Suroboyo ini apakah sudah bisa sampai ITS dan Unair? Atau belum ya? Atau bagaimana aku kurang paham mba 😅

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang rutenya lebih banyak, Mbak 😁 wah kenapa ngga jadi kuliah di Surabaya? Yuk lah ambil S2 di kota Pahlawan. Trus sering2 naik Suroboyo Bus

      Delete

Post a Comment

Thank you for visiting ðŸŒŧ I'd love to hear your thoughts here