Semusim, dan Semusim Lagi - Andina Dwifatma (Gramedia Pustaka Utama, 2013)

[Disclaimer: aku tidak sedang mengulas atau meresensi; ini hanya caraku menyelami isi buku ini dan mengenal jati diriku.]

Beberapa tahun yang lalu, ketika presiden Republik Indonesia masih yang lama dan aku masih aktif membaca buku di iPusnas, Semusim, dan Semusim Lagi (Andina Dwifatma, GPU, 2013), adalah salah satu buku yang sering kupinjam. Sering kupinjam tapi tidak pernah kubaca. Oh ya, kubaca beberapa kalimat di halaman awal tapi tidak pernah bisa kutuntaskan. Lalu di kemudian hari, aplikasi ini sering error dan menyebalkan, hingga akhirnya aku uninstall.


Semusim, dan Semusim Lagi di Gramedia Digital

Awal tahun 2026 aku kembali install iPusnas dengan tampilan yang lebih baik dibanding dulu, hanya yang tidak aku suka kalau muncul gambar kartun presiden dan wakilnya (itu bisa langsung dilewati). Dan aku kembali meminjam Semusim, dan Semusim Lagi dengan niat benar-benar akan membacanya.

Mbak Hartari (Lauk Daun, baNANA, 2022) sudah membaca Semusim, jadi aku banyak diskusi dengannya tentang buku ini.

(Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta adalah benang merah obrolan kami. Ia sudah membuktikan pencapaian awalnya dengan Lauk Daun, dan aku masih menunggu janjinya untuk kami bertemu di panggung juara, suatu saat nanti, di Taman Ismail Marzuki--dulu begitu disebutnya, meski bisa saja penganugerahan juara pindah lokasi. Kami pernah bersama di lokakarya penerjemahan cerita anak berbahasa Jawa tahun 2018 di kampus Unesa, tapi saat itu kami belum kenal.)

Mbak Hartari bilang pernah ketemu Andina, dan yang sangat mengesankannya adalah ketika Andina menyampaikan belasungkawa saat berpulangnya sang ibu. Sebelum aku membaca sendiri tulisan Andina, si Mbak sering bilang kalimat-kalimatnya mengalir indah, rapi. Nyaman dibaca. Orangnya cantik pula.

Yang membuat Mbak Hartari kurang nyaman membaca Semusim, dan Semusim Lagi adalah saat sang pencerita jatuh bersama MuaraAku sendiri ketika membacanya tetap menangkap beberapa kelucuan seperti ketika aku membaca Lauk Daun. Cara Andina mendeskripsikan perilaku Bu Berta, salah satu penghuni Rumah Putih, yang suka memainkan sapu, itu membuatku tertawa.

Minggu (04/01) tengah hari, aku sampai pada bagian 'Aku' mengaku hamil pada Dokter Iwan dan alasan dia menusuk Muara (hlm. 215). Aku tidak mengira bahwa  ternyata dugaan Aku salah. Ya.. aku mungkin pembaca yang lugu dan berhasil terhibur dengan plot twist ini. Aku tahu si Aku berhalusinasi dengan merasa bisa berkomunikasi dengan Sobron, si ikan mas koki. Tapi tentang perasaan/keyakinan si Aku yang salah juga menghiburku.

Pencarian panjang Aku akan ayahnya terjawab di akhir cerita. Dia mencari akarnya. Dan akhirnya menemukannya.

Ayah ada di sisiku kini. Aku merasa semusim paling berat dalam hidupku telah terlewati, dan aku siap untuk musim selanjutnya. Lalu mungkin semusim, dan semusim lagi...
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar bahagia. (hlm 230. Tamat)

*

Sekarang aku paham kenapa naskah ini menang sayembara novel DKJ.

Buku yang menyentuh emosiku seperti ini tidak cukup kubaca sekali, maka ketika kututup aplikasi iPusnas dan selang beberapa jam kucoba membuka kembali namun error, aku rada gusar. Aku sedang lapar bacaan, tapi berkali-kali kucoba buka-tutup-refresh iPusnas tetap gagal.

(Dalam pada itu--konjungsi yang sering kubaca di buku-buku terbitan 80-90an--aku mencari dan membaca ulasan buku ini di beberapa blog orang lain. Aku ingin tahu sudut pandang orang yang berbeda-beda tentang buku ini.)

Aku baru ingat punya akun Gramedia Digital yang belum pernah transaksi. Kucoba membeli paket fiksi seharga 34.300 rupiah dan yeay! Aku bisa baca Semusim, dan Semusim Lagi lagi!

Ngobrol lagi dengan Mbak Lauk Daun tentang Andina dan karya-karyanya. Menurutnya, Semusim ini bacaan yang cukup berat. Yang ringan bagi Mbak Hartari itu macam Andrea Hirata (tetralogi Laskar Pelangi dan Ayah Sabari). Rasa berat atau ringan saat membaca sebuah buku menurutku relatif, dipengaruhi banyak hal. Bertahun-tahun yang lalu, aku juga merasa berat memulai baca Semusim. Mungkin karena saat itu aku tidak fokus pada bacaan jenis ini (novel bertema kesehatan mental).

Laskar Pelangi bagiku sampai saat ini masih berat. Sudah punya buku cetaknya, tapi malas mau baca. Mungkin karena aku tidak punya buku kedua, ketiga, dan keempatnya (Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov; meski sudah puas nonton film Sang Pemimpi dan Edensor) dan merasa tidak lengkap kalau tidak punya keempat judulnya. (Tapi kenapa aku asyik-asyik aja baca Bumi Manusia tanpa merasa buru-buru harus baca Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca? Simply because it was a gift from Bapak for Ibu, ada tulisan Bapak membelinya di toko Gramedia Bandung, 14 Mei 1981. Bagiku itu sangat istimewa dan aku tetap akan berusaha segera membaca tiga buku lanjutannya).


Bumi Manusia, 1981-2026


Sekarang aku juga ingin baca Lebih Senyap dari Bisikan (masuk wishlist). Dan buku lainnya lagi. Nemu blog andinadwifatma.com juga menambah daftar bacaanku.

(Btw, kalau buku terbitan 2013 masih dicetak ulang dengan penjualan yang bagus sampai 13 tahun kemudian, kita sudah tahu, kan, apa maknanya?)


Comments