Nonton Na Willa (2026) di Kota Cinema Mall Gresik

Rencana nobar Na Willa (2026) bersama anak-anak akhirnya kesampaian, alhamdulillah. Kota Cinema Mall (KCM), Menganti, Gresik, jadi pilihan karena yang terdekat. Harga karcisnya termurah dibanding jaringan bioskop lainnya.


Na Willa, Reda Gaudiamo, Cecilia Hidayat, Post Press, Ryan Adriandhy


Harga tiket per hari ini (Senin, 30 Maret 2026) sudah ke harga normal, dua puluh lima ribuan. Kemarin adalah harga libur lebaran terakhir, tiga puluh lima ribu. Jam tayangnya juga berubah. Kalau kemarin jam kedua masih sampai petang/malam hari, hari ini ada penayangan pagi dan sore saja. Sebab, anak-anak sudah kembali ke sekolah.


KCM Greenland, Menganti, Gresik

Sebelum nonton, aku sudah membaca bukunya, dan penasaran seperti apa adaptasinya. Ternyata, apa yang kulihat adalah nyaris persis antara buku dan film.

Apakah aku puas menontonnya? Puas dong 😁. Ibu juga suka, meski berkomentar, Surabaya jaman semono durung ana cangkir keramik kaya duweke Mak'e Na Willa.

Duo AA bagaimana? Sepertinya mereka kurang enjoy, mungkin karena mereka tidak terbiasa membaca buku? Kalau tokoh sentral cerita ini adalah anak perempuan, tapi kan Na Willa punya teman laki-laki (Bud dan Dul), dan film ini dibuat untuk bisa ditonton segala kalangan dan tentu saja semua umur.

Tidak apa, mereka masih akan banyak belajar dari banyak bacaan dan tontonan yang baik.

Eh tapi Almir bisa menjawab dengan benar semua pertanyaan yang budenya dan neneknya ajukan, lho.. Siapa nama anak perempuan yang suka makan pisang seperti kamu?

Siapa teman Na Willa yang kena accident kereta? (Duh, meski adegan ini sudah sangat diperhalus, bagiku tetap mengerikan.)

Dan beberapa pertanyaan lagi.


Catatanku tentang film Na Willa

Ketika nonton cuplikannya di beberapa ulasan YouTube, seketika set film ini mengingatkan aku pada Mary Poppins (1964). Oh ya, juga di sitkom Bajaj Bajuri. Bukan lokasi nyata, melainkan lokasi yang dibangun untuk sebuah film. Rasanya jadi benar-benar sandiwara yang dibuat dengan serius untuk menyediakan tontonan bagus untuk masyarakat.

Jika P.L.Travers mengabadikan kenangan tentang ayahnya di Mary Poppins, begitu pula Bu Reda menyimpan kenangan masa kecilnya dan keluarganya (Mak dan Pak-nya) dalam Na Willa. Kisah-kisah yang indah, hangat, dan genre yang aku suka.

Akting semua pemeran Na Willa, mulai dari Luisa Adreena, sampai para figuran di keluarga Farida yang porsinya sangat minim, memuaskan. Adegan yang paling kusuka adalah ketika Na Willa berani melawan tuduhan ibu gurunya bahwa dia belum bisa membaca.

Warna-warni yang menyegarkan mata di setiap adegannya benar-benar jadi surga visual di antara sekian banyak tayangan.

Yang tidak kusuka, apa ya.. tidak ada. Aku beri nilai 8/10 untuk film ini. Kritikku untuk film ini hanya ceritanya yang agak terlalu datar, konflik/benang merah cerita Na Willa kurang menggigit untuk skala layar bioskop. Sebagai film adaptasi, harapanku sih dibuatkan cerita utama yang besar dengan cerita-cerita di bukunya sebagai latar keseharian saja.


Na Willa, Reda Gaudiamo, Ryan Adriandhy, KCM Greenland, Menganti, Gresik


Terima kasih untuk kisah yang indah ini, Bu Reda Gaudiamo dan Ryan Adriandhy. Kami menunggu Na Willa 2!


Comments