Diana teman baikku, di status WhatsApp-nya mengunggah tangkapan layar kutipan seorang wirausaha sukses, yang menyebutkan banyak manfaat (terutama finansial) setelah beralih dari karyawan kantor menjadi pengusaha. Diana memberi caption 'Itu kalau yang sudah mulai besar seperti beliau lah.. kami-kami yang wirausaha senin-kamis ini apalah daya..'
Barangkali karena aku merasa dia teman dekatku, secara spontan aku merespons status WA-nya dengan kalimat 'Be positive, bestie. Rezeki Allah itu luas.' Kurasa dia sudah paham maksudku meski kalimatku hanya tujuh kata.
Tapi respons baliknya membuatku menyesal dan sadar kenapa tadi aku reaktif begitu melihat unggahannya. Nah, kamu kan sudah baca filsafat stoik (dari Filosofi Teras-nya Henry Manampiring yang kubaca ketika pandemi Covid-19), begitu sentil satu sisi hatiku. Apalagi barusan, baca Let Them Theory, juga.
Sisi hatiku yang lain berusaha membela diri. Aku kan berniat baik pada Diana. Dia sahabatku. Aku ingin dia tidak mencemaskan masa depan. Aku tahu dia selalu melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.
Respons Diana yang membuatku menyesal adalah dia bilang saat ini kita harus realistis dengan kondisi negeri yang you know lah ya. Kok, sekarang jadi aku yang merasa nggak nyaman dengan responsnya..
Ya salah sendiri, kenapa reaktif sama status orang. Dia ngoceh sendiri, kenapa pula aku ribut menasihati? Dia sahabarku yang sedang curhat di status WA-nya sendiri, kenapa aku harus terpancing?
Seharusnya tadi aku tidak reaktif. Seharusnya aku tidak mengoreksi orang lain, sekalipun itu sahabat baikku. Seharusnya aku biarkan dia berekspresi di status WA-nya. Tidak semua unggahan orang harus aku react or respond.
Ya, ya.. manusia kadang lupa. Eh, sering ding.. sering banget.

Comments
Post a Comment
Thank you for visiting 🌻 I'd love to hear your thoughts here