Bye-bye September, Welcome October

Rabu Kliwon, 30 September 2026/19 Rabiul Akhir 1448

Bismillah, GrabCar yang mengantarku menuju Stasiun Madiun, berangkat jam 8:16 pagi.

Ke mana, Bu?

Surabaya, Pak.

Masih beberapa meter bertolak dari rumah, aku cek Access by KAI.

Aduh...

Kenapa, Bu? Ada yang ketinggalan (di rumah)?

Engga, Pak. Ng.. 'kereta saya' sudah berangkat.

Jadi, gimana?

Nggak apa-apa, Pak. Saya belum beli tiket, kok. Santai, nanti sedapatnya aja kereta apa yang ada. Saya biasa go-show.

Stasiun Surabaya Gubeng
Surabaya Gubeng kupotret dengan Samsung Galaxy A10, 28 Juli 2019, jam 17:07

Oo..

Berpikir cepat. Logawa? Aku bisa turun di Wonokromo, malah lebih dekat ke klinik nanti. Tapi, sampai di sana jam 2 siang. Kukontak lagi dokter gigiku.

Dok, kalau saya sampai Surabaya jam 2, apa bisa jadwal kita geser sorean? Tapi kalau Dokter tidak berkenan, tetap jam janjian kemarin saja, maaf sebelumnya.

Dokterku minta kami tetap di kesepakatan kemarin. Baiklah.

Turun dari mobil, aku tetap masuk stasiun kesayanganku.

Selamat datang, di Stasiun Madiun.. lagu keroncong mengalun merdu, menyambut calon penumpang. Aku duduk dulu di kursi dalam. Proyek penataan stasiun belum selesai.

Jadi, naik apa aku? Sudah jelas-jelas tidak ada kereta menuju Surabaya jam segini. Baiklah, aku mengalah pada pilihan naik bus. Segera kupanggil GrabBike menuju Terminal Purboyo.

Aduh, aku lupa menyiapkan uang tunai. Untunglah sopir bus bilang bisa bayar nontunai. Bismillah naik bus 🐼 lagi. Dapat bus yang berangkat dari kota reog, rupanya, aku dikenai ongkos 40ribu. Lumayan. Penumpangnya tidak banyak, mungkin karena bukan akhir pekan.

Sampai kira-kira di tol Jombang, ada masalah. Ya Allah, aku cemas lagi. Ada masalah kelistrikan atau entah apa, yang menyebabkan klakson bus berbunyi terus mendenging tanpa henti. Alhamdulillah, setelah dibetulkan selama kira-kira 10 atau 15 menit, bus jalan lagi.


Demo sopir truk logistik di ujung September

Sampai di gerbang tol Warugunung, aku menyaksikan demo sopir truk logistik mengadang ruas jalan, sehingga lalu-lintas macet. Sopir bus yang membawaku, bertanya kepada petugas pintu tol, di mana ada putar balik terdekat menuju terminal. Setelah dapat jawabannya, kami seluruh penumpang bus masih harus bersabar karena jalan macet.

demo sopir truk logistik

Memangnya kenapa dengan solar yang mereka protes? Maafkan aku, kondisi pribadiku membuatku tidak perhatian dengan situasi sosial dan politik terkait kebijakan bahan bakar penentu hidup matinya bisnis logistik. Iya, aku paham truk-truk itu yang mengantar komoditas yang aku konsumsi sehari-hari.

Aku tiba di Grab Lounge Medaeng jam 11.30 tepat. Pesan kendaraan dari sini dapat tarif normal, kalau di stasiun amboi murah kali, diskonnya besar-besaran (dua kali aku naik GrabCar dari Stasiun Wonokromo tujuan agak jauh, hanya bayar kurang dari 15ribu).

Dalam perjalanan menuju klinik, aku melewati jalan A Yani yang juga macet sebagian. Jadi, ada berapa banyak truk yang menghalangi jalan, dari sekitar gerbang tol Warugunung sampai depan kantor Dinas Perhubungan? Mungkin ratusan truk. Aku membaca poster berisi tuntutan para sopir, tapi agak kurang jelas, kecuali satu hal: nama depan menteri ESDM disebut dan disindir dengan kata-kata tertentu (masih cukup sopan kok, sopir-sopir itu).

Surabaya-ku yang panas dan berdebu, aku melepas rinduku hari ini.

Alhamdulillah aku tiba di Cozy Care Dental Clinic, pas pada waktu janjian kemarin. Ini bulan ke-17 aku memakai kawat gigi, dan hari ini kuputuskan melepasnya. Gigiku sudah kembali rapi seperti gigiku sewaktu masih remaja 😜😁. Terima kasih drg Mijar, sudah merawat gigiku dengan sabar dan melayaniku dengan baik.

Pertengahan tahun lalu ketika aku mencari dokter gigi, takdir Allah membawaku ke dokter Mijar. Namanya sangat familiar, aku seperti pernah dengar sekitar dua puluh tahun lalu, tapi apa dan bagaimana ceritanya, memori bagian itu seperti hilang.

Akhirnya ini kuyakini juga sebagai kerja reticular activating system. Aku sudah survei beberapa layanan pasang behel di banyak klinik, dan Cozy Care Dental Clinic ini salah satu yang harga layanannya sangat terjangkau, dengan kualitas sama bagusnya dengan yang harganya dua sampai tiga kali lipatnya. Kenapa aku pilih dokter Mijar, aku hanya menuruti kata hatiku, secara naluriah saja. (Mungkin lebih tepatnya karena satu kota dengan keluargaku di Surabaya, sih, jadi kalau jadwal kontrol sekalian nengok keluarga).

Dulu, ketika aku ceritakan ini ke keluargaku, Ami langsung bilang, 'Hei, Mijar itu teman SMA-ku! Kamu lupa, kah, Sis?'

Oh, astaga, baru aku ingat. Iya, dokter Mijar ini dulu teman SMA Ami, dan dulu juga finalis Model Kawanku (majalah Kawanku), seangkatan dengan Zaskia Adya Mecca.

Kenapa takdir membawaku ke kliniknya, ya itu tadi, kerja RAS yang menghubungkan kesamaan frekuensi. Nama dokter Mijar, ada kesamaan dengan namaku dan nama Ami. Gitu deh, kira-kira.

Hari ini, akhir September 2026, kucatat sebagai salah satu hari terbaik dalam hidupku. Kali ini, durasi layanan paling lama dibanding 16 bulan sebelumnya. Gigiku dibersihkan total, semaksimal mungkin. Ngilu, nyeri.. demi kesehatan (dan estetika 😅).

Selesai urusan gigi, saatnya sowan kanjeng mami. Akhirnya, bisa mengucapkan selamat ulang tahun kepada ibuku sayang, yang dua hari lalu merayakannya bersama Kereta Api Indonesia.

Alhamdulillah, quality over quantity. Meski belum bisa menginap, kumaksimalkan perjumpaan ini. Allah, titip orang-orang tersayangku di kota ini ya.. (Aku tidak sempat ketemu Luki dan Lina, titip doa saja.)

Menjelang maghrib aku pamit Ibu. Aku diantar GrabBike menuju Stasiun Gubeng, berangkat jam 5:14 sore, tiba jam 6:07 petang (kusaksikan pergantian waktu versi kalender hijriah, dari langit masih terang memasuki gelap malam).

Kunikmati waktuku di Stasiun Gubeng, menikmati pemandangan para pejalan, para pelaju, para pelayan masyarakat di bidang perkeretaapian.

kereta api Bima, Stasiun Surabaya Gubeng
biru malam (Bima)


Pesan kereta Bima, Aku menunggu kurang dari satu jam sampai keretaku tiba. Sekitarf jam 7 kurang 1/4, keretaku sudah memasuki stasiun. Aku habiskan dulu teh botol dan sisa roti yang kubawa dari kabupatenku tadi pagi, sebelum naik ke gerbong.

Tengkukku agak pegal. Keretaku baru akan berangkat setengah jam lagi, tapi aku segera naik. Bismillah.

Aku selalu terharu melihat para petugas stasiun berdiri mengantar keberangkatan kereta dengan sikap hormat. Kepala stasiun (?), pramugari yang tidak sedang bertugas di kereta, petugas keamanan, petugas kebersihan, semuanya bersikap hormat grak.

Terima kasih, Allah. Terima kasih, keluarga Surabaya-ku, terima kasih kota tempat aku dibesarkan. Jumpa lagi nanti, dalam keadaan yang jauh lebih baik.

“Travel is fatal to prejudice, bigotry, and narrow-mindedness.” – Mark Twain

Alhamdulillah, aku tiba di Stasiun Madiun jam 9:16 malam, dalam keadaan sehat wal afiat. GrabBike mengantarku dengan lancar aman sentosa sampai ke rumah, jam 10 malam.


Comments