Aku tidak wajib menjelaskan kepada diriku, apalagi kepada orang lain, tentang kenapa aku lebih suka ada perbedaan dalam penetapan 1 Syawal di Indonesia (demikian juga 1 Dzulhijjah). Bukankah yang terpenting adalah kedamaian di seluruh penjuru negeri? Tidak perlu berdebat tentang mana yang lebih baik antara metode hisab dan rukyatul hilal.
Hari ini, Jumat, 20 Maret 2026, aku berhari raya mengikuti kalender hijriah global tunggal.
![]() |
| Selamat lebaran |
Alhamdulillah, aku bisa shalat id di halaman RSI Siti Aisyah Madiun, dengan bahagia. Yang bertindak sebagai imam dan khatib adalah Ustadz Warsito, S.Sos.
Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar
La ilaha illallah, allahu akbar
Allahu akbar, wa lillahilhamd.
![]() |
| Berlebaran duluan dan tetap menghormati saudara yang masih berpuasa |
Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim.
Selamat idulfitri 1447, mohon maaf lahir dan batin.
![]() |
| Jumat, 20 Maret 2026/1 Syawal 1447 |
Pulang shalat id, keliling sebentar di sekitar jalan Pahlawan. Sepi..
Baiklah, pulang saja. Eh, mampir ke Laskar Buah di Jiwan, Kabupaten Madiun. Wow, banyak jeruk santang yang warnanya sangat cantik seukuran bola bekel. Harganya 48ribu per kilogram. Sepertinya oke untuk suguhan tamu lebaran dan mempercantik meja tamu.
'Manis jeruknya, Mas?' tanyaku ke mas pramuniaga.
'Boleh diicip, Bu.' Mas-nya mempersilakan aku.
'Eh, masih puasa,' celetuk seorang pembeli (perempuan kira-kira seumuran aku).
'Aku lebaran hari ini,' sahutku tersenyum sebelum mencicip jeruk. 'Barusan pulang shalat id.'
Hm.. manis, enak, segar 🍊🍊 Tapi, ng... nggak dulu deh 😄 beli buah naga saja. Harganya separuh harga jeruk.
Dari Laskar Buah, aku mampir lagi ke Pasar Maospati. Alhamdulillah masih ramai, orang-orang di sini rata-rata berlebaran ikut pemerintah. Aku beli daging ayam, yang langsung kumasak opor setibaku di rumah.




Comments
Post a Comment
Thank you for visiting 🌻 I'd love to hear your thoughts here