Menyulap STEM Jadi Bacaan yang Asyik dan Menyenangkan

Alhamdulillah, tahun ini aku diundang menghadiri lokakarya untuk kedua kalinya, oleh Pusat Perbukuan (Kemendikdasmen). Macam dapat beasiswa. Ikut seleksi, bayarnya tidak pakai uang, melainkan dengan konsep cerita (premis dan sinopsis).



Hari ini, Kamis, 12 Maret 2026 (23 Ramadan 1447) sampai besok Jumat (13/03), aku belajar dari para guru untuk menyulap STEM (sains, teknologi, rekayasa/enjinering, dan matematka) menjadi buku yang asyik dan menyenangkan.




Lokakarya dibuka oleh Ibu Eka Setiawati, dari Pusat Perbukuan, yang mengucapkan selamat karena kami lima puluh peserta telah dipilih di antara delapan ratus delapan puluh delapan pendaftar.

Jam 9:46 pagi materi pertama disampaikan Pak Bambang Trim dari Bandung. 


On stage: Bambang Trim; moderator Stephani Calista

Kali ini Pak Bambang memberikan materi Standar Mutu Buku, Standar Proses dan Kaidah Pemerolehan Naskah Penerbitan Buku. Selesai pemaparan jam 10.21 pagi.

Materi kedua dimulai jam 10.23, oleh Bu Sofie Dewayani, Ph. D.: Pedoman Perjenjangan Buku dan Buku Ramah Cerna. Pertama kali aku dapat materi dari beliau ketika ikut workshop Room to Read dan ProVisi Education di Lembang, 2016. Kali ini, aku sangat surprised ketika Bu Sofie bilang bahwa aturan perjenjangan telah direvisi, dari Peraturan Kepala BSKAP Nomor 030/P/2022 menjadi yang sekarang Keputusan Menteri Dikdasmen 2026.

Jadi, kurasa Allah memang menakdirkan aku hadir di sini agar aku menyaksikan sendiri dari Bu Sofie tentang revisi ini. Ketika dibuka sesi tanya-jawab, aku jadi peserta pertama yang berkesempatan bicara. Aku tidak bertanya, melainkan menyampaikan terima kasih atas revisi itu, sebab selama ini aku merasa sangat jengkel dengan aturan perjenjangan yang bagiku sangat aneh, tidak masuk akal, dan membatasi kreativitas penulis.

Aturan sebelum revisi yang menjengkelkan itu di antaranya adalah sampai jenjang B2, naskah buku tidak boleh ada dialog. Itu belum termasuk jumlah kata yang dibatasi. Dan masih banyak lagi. Di pengantar aturan perjenjangan lama itu memang sih ada semacam disclaimer bahwa aturan itu tidak diterapkan secara kaku.

Ya, aku paham. Bahkan mentor (penulis senior) yang sama bisa keukeuh menerapkan aturan itu, sementara dia bisa mengerjakan buku proyek lain dengan penerbit swasta, misalnya, dan tidak tunduk pada aturan itu.


Sofie Dewayan, dari Peraturan Kepala BSKAP Nomor 030/P/2022 menjadi yang sekarang Keputusan Menteri Dikdasmen 2026

Oh 😁 akhirnya aku bisa melepaskan rasa sebalku pada aturan sebelumnya. Terima kasih, Bu Sofie.


Materi ketiga sebelum rehat


Ary Nilandari: Cara Mengelola Ide, Tips dan Trik bagi Penulis, Pusat Perbukuan, STEM, Kemendikdasmen


Mbak Ary Nilandari jadi pembicara ketiga di lokakarya ini: Cara Mengelola Ide, Tips dan Trik bagi Penulis, dimoderasi oleh Ivan Riadinata. Materi disampaikan jam 11:10 sampai 11:56, setelah itu kami istirahat di kamar masing-masing.


Materi setelah rehat

Jam 1:30pm back to Batavia 1 Ballroom. Kami bersiap menerima materi inti terkait naskah bermuatan STEM. Materi keempat Sains, Teknologi, Enjinering, Matematika (STEM) disampaikan Mbak Maya Lestari Gf, yang juga mentor kelompokku (B3). Kalau dengan ketiga pembicara sebelumnya aku sudah beberapa kali ini bertemu, dengan Mbak Maya adalah pertama kalinya.


Mbak Maya dan moderator Berthin Sappang


Untuk pertama kalinya juga, materi STEM benar-benar kupahami secara berbeda dibanding pemahamanku selama ini. Banyak salah kaprah di masyarakat literasi, kalau boleh kusimpulkan begitu dari paparan Mbak Maya, tentang naskah STEM. Tidak bisa sebuah naskah STEM mengandung sains saja, atau teknologi saja, atau enjinering saja, atau matematika saja. Naskah STEM harus memuat paduan keempat unsur itu.


Materi dari Mbak Maya


Aku jadi agak bingung karena di jam pertama tadi, Pak Bambang melempar tanya apakah naskah STEM harus memuat keempat unsur itu atau tidak. Ndilalah qadarullah bukan kebetulan kalau Pak Bambang turun dari panggung dan posisinya kurang lebih satu setengah meter dari tempatku duduk ketika menanyakan (menguji) pernyataan itu. Agak ragu tadi kujawab tidak harus.

Disclaimer: Kalau aku tidak salah tangkap, Pak Bambang melanjutkan kalimatnya dengan (kurang lebih begini): Kalau bisa keempatnya masuk, hebat, asal jangan cocoklogi.

Pada akhirnya kami semua menyepakati bahwa naskah buku STEM harus mengandung keempat unsurnya. Dan, kalau tahun-tahun kemarin kami yang ikut proyek buku cernak dwibahasa bertema STEAM (STEM ditambah art/seni di antara enjinering dan matematika) merasa sudah paham naskah STEM/STEAM, sesungguhnya itu tidak tepat ðŸĪŠ. Jadi, bukuku yang mengisahkan proses pembuatan tempe dengan tokoh anak (hanya) sebagai a passive observer instead of produsen tempe, itu tidak bisa disebut buku STEM.

Paparan Mbak Maya selesai jam 2:47 siang.

Tidak ada rehat kopi sore karena ini bulan Ramadan. Selanjutnya materi dari Bu Galuh Sukmara, S.Psi., M.A., (The Little Hijabi), Kesetaraan GEDSI (Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial) dalam Buku Nonteks. Kurasa, apa yang disampaikan Bu Galuh hari ini, masih sama dengan di workshop tahun lalu (naskah bertema perubahan iklim).


Saatnya Kerja Mandiri

Bu Galuh menjadi pemateri terakhir di kegiatan ini, selanjutnya kami mulai membedah konsep masing-masing bersama mentor kelompok, sambil menunggu waktu berbuka.


Bu Galuh didampingi moderator siapa? Aku lupa namanya..


Hari kedua lokakarya, Jumat, 13 Maret 2026, kami melanjutkan pekerjaan, dengan kesempatan menyelesaikan naskah utuh sampai 25 Maret 2026, jam 5 sore.


Dokumentasi Pusbuk. Hari ke-2 lokakarya


Rangkaian kegiatan ditutup Jumat sore, tapi kami masih diberi kesempatan beristirahat sampai Sabtu, 14 Maret 2026. Masih dapat satu kali makan sahur di restoran Kicir-Kicir., sebelum check-out Sabtu siang.


Kelompok B3 dan mentor, foto milik Ridhayani Purba


Usai makan sahur, Maria Lubis dan beberapa teman lain mengajakku jalan-jalan ke Kota Tua. Alhamdulillah, kegiatan yang menyenangkan untuk mengisi 2026-ku.


Comments