Dari Madiun ke Jakarta lalu Mampir di Solo (Bag. 1)

"The world is a book, and those who do not travel read only a page."Saint Augustine


Selain agenda rutin silaturahmi, bulan ini aku menghadiri undangan lokakarya naskah bertema STEM dari Pusat Perbukuan. Lokakarya itu yang duluan, aku harus berangkat sehari sebelum acara, dari kota pecel.


Stasiun Madiun
Stasiun Madiun, jumpa lagi kita, 11 Maret 2026, 17.25


Aku sudah kontak beberapa teman yang juga diundang, akhirnya aku memilih KA Gajayana, relasi Madiun-Gambir. Sudah ada Happy Rose, sesama undangan, yang naik Gajayana dari Malang dan akan melewati Madiun, jadi aku punya teman seperjalanan.




Agak tricky saat memesan tiket pergi-pulang untuk kegiatan Jakarta ini, karena menjelang Idulfitri dan rebutan tiket dengan para pemudik. Cari tiket ke Jakarta banyak pilihan, nah baliknya itu yang sudah langka. Ada kereta yang langsung ke Madiun, tapi kereta luxury dan priority.

Stasiun Madiun
Stasiun kesayangan


Kalau pulangnya naik pesawat ekonomi saja, boleh tak? Harganya lebih mahal daripada kereta luxury dan priority relasi Jakarta-Madiun 😀. Macam-macam komentar orang. Ada yang bilang, berangkat dan pulang harus moda transportasi yang sama--kok aneh, berdasarkan apa komentar itu? Padahal di Standar Biaya Masukan Tahun 2026 yang dikirim Mbak Putri, PIC-ku, tidak ada ketentuan harus moda transportasi yang sama. Aku berangkat ke Jakarta untuk GLN 2019 naik pesawat, pulangnya kereta, oke saja.

Ada juga yang bilang, kalau pulangnya pesan kereta mewah, harus siap tidak di-reimburse panitia.

Kalau naik pesawat, aku mempertimbangkan naik dari Bandara Adi Soemarmo. Dari rumah menuju ke bandara, aku bisa naik kereta BIAS. Tapi akhirnya kuputuskan naik kereta saja. Aku memesan tiket Argo Lawu relasi Gambir-Solo Balapan. Dari Solo, aku memesan kereta BIAS tujuan stasiun dekat rumah.


Gajayana for the first time

Dari semua kereta yang ada, Gajayana baru kali ini kunaiki untuk tujuan Jakarta.


Stasiun Madiun, Gajayana, kereta api, Malang-Jakarta
Gerbong Gajayana. Kursiku di mana ya..


Sembilan hari menjelang lebaran 1447, banyak kursi kosong. Setelah aku menyapa Mbak Happy Rose yang berjarak sekitar 10 kursi di depanku, aku menata bawaanku.


luggage, stasiun Madiun, Gajayana
koper 2019


Dari Madiun tadi kereta bertolak jam 18.32, akan tiba di Gambir jam 03.05, Kamis, 12 Maret 2026. Saatnya berbuka di kereta. Kusiapkan bekal makanku. Aku dan Mbak Happy bukber, kami saling mengucapkan selamat berbuka di kursi masing-masing. Banyak kursi kosong sampai Gambir, tapi aku tidak coba-coba pindah kursi seperti sebagian penumpang lain.


kereta api Gajayana, Stasiun Madiun


Naik kereta malam, mau lihat apa di luar jendela.. gelap semua 💤😴

Setengah jam menjelang tiba di Gambir, aku bangun. Alhamdulillah, perjalanan lancar dan selamat.


Gajayana hampir tiba di Gambir


Rail Transit Suite Hotel, Gambir


Rail Transit Suite, Stasiun Gambir
Merasakan sensasi kamar hotel di bawah rel dengan gemuruh gludug-gludug kereta lewat


Dulu, setiap ada undangan dari Jakarta yang kuhadiri, selalu acaranya dimulai siang hari setelah kedatangan para peserta dari berbagai daerah (sekalian check-in). Lokakarya kali ini beda, acaranya dimulai jam 8 pagi. Jadi, peserta dari jauh seperti aku harus berangkat hari sebelumnya.


Rail Transit Suite, Stasiun Gambir
Ternyata harganya berubah-ubah tergantung musim (hari kerja atau musim libur)


Tapi karena kereta tiba kepagian seperti hari ini, aku dan Mbak Happy berpatungan pesan kamar di Rail Transit Suite Hotel, stasiun Gambir. Kami memesan kamar single untuk 4 jam, seharga 325ribu rupiah, cukuplah waktu tunggu sampai sebelum berangkat menuju tempat lokakarya.


Lobi Rail Transit Suite menyediakan kopi, teh, dan kurma untuk tamu hotel


Sebelumnya, aku mempertimbangkan pakai Shower & Locker yang menyediakan fasilitas titip koper dan mandi. Tapi pikir-pikir, gimana bisa ganti pakaian dengan nyaman? Dengan hitungan harga yang tidak selisih banyak, kurasa lebih baik pesan kamar Rail Transit Suite saja.


Rail Transit Suite, Stasiun Gambir
single room, Rail Transit Suite


Atau Luxury Lounge? Boleh kok, penumpang kereta bukan luxury/priority/panoramic, compartment, dan kereta wisata, tapi bayar enam puluh lima ribu 😁. Kalau pemegang tiket kereta premium bebas masuk dan menggunakan fasilitas di dalamnya tanpa bayar lagi (artinya harga karcis sudah termasuk layanan luxury lounge). Kapan-kapan coba ah.


Rail Transit Suite, Stasiun Gambir
Tv-nya bisa buat nyetel dzikir pagi


Aku dan Mbak Happy makan sahur di kamar. Shalat subuh gantian, ruangnya sempit.



Habis shalat, mandi. Sudah tepat tadi kami memutuskan patungan sewa kamar, jadi bisa mandi dengan lebih nyaman. Kalau mandi di Shower & Locker, tidak boleh lebih dari 30 menit. Ya meski orang normal mandinya tidak lama (secukupnya), kalau dibatasi kan nggak nyaman juga..


Akhirnya sampai juga kami di Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk

Meski aku dan Mbak Happy hendak ke tujuan yang sama, kami naik GoCar yang berbeda. Alasannya biar gampang untuk proses penggantian nanti. Mbak Happy bilang begitu, aku oke sajalah.


Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk


Padahal menurutku, meski naik mobil yang sama dan nanti bukti bayarnya jadi satu, bisa saja kan panitia (dari Pusbuk) mengganti separuhnya untuk masing-masing kami. (Dulu, dari bandara Husein Sastranegara saat menghadiri workshop picture books Room to Read 2016 menuju Green Forest Resort, aku naik taksi bandara bertiga dengan Mbak BE Priyanti dan Mbak Beby Haryanti Dewi, dan penggantian ongkosnya lancar saja.)

Senangnya dapat kesempatan belajar dari para guru dan ketemu teman-teman lagi.

Beberapa hari ini aku juga keep in touch dengan Betty--orang kepercayaan Mbak Ary, yang sudah cukup sering ketemu denganku, via chat. Selama ini kami ketemu di Surabaya dan sekitarnya, dan hari ini untuk pertama kalinya kami ketemu di Jakarta. Kami ngobrol di lobi hotel dan berlanjut semeja di Batavia Ballroom.

Saat pembagian kamar, aku dapat kamar 1718, berdekatan dengan Mbak Ina Inong yang sekamar dengan Mbak Maya Lestari Gf (mentorku) di 1715, dan Maria Lubis yang sekamar dengan Mbak Isyani di 1717.

Dengan Mbak Ina Inong, ini reuni kami setelah terakhir ketemu di GLN 2019. Dulu banget, sekitar tahun 2010, kami ketemu di acara kopdar penulis di Surabaya.

Dengan Maria Lubis, untuk pertama kalinya kami tatap muka dan sekelompok pula, Orangnya seru. Ternyata kami sama-sama sudah saling kenal nama sebelumnya di media sosial (komunitas penulis dan penerjemah). Pertama kali aku tahu namanya dari Mbak Dian Vita Ellyati yang menyebut Maria adik kelasnya di Astronomi ITB, sebaya denganku. Dan aku kenal Mbak Vita tidak dari komunitas sejawat, melainkan di Masjid Baitul Falah Ngagel Jaya Tengah.


Feeling like home


Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk
Kamar 1718

Kamar 1718 yang sedianya kutempati bersama seorang peserta lain yang belum pernah kukenal sebelumnya, ternyata kutempati sendiri sampai check-out hari Sabtu (14/03). Orangnya pindah entah ke mana, sekamar entah dengan siapa. Alhamdulillah, bagiku jadi lebih nyaman, lebih privat.


Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta

Dengan menempati kamar double sendirian, aku jadi leluasa menyalakan atau mematikan AC. Nyala sebentar saja, lalu kumatikan untuk waktu yang sangat lama. Bantu hemat energi, selain aku memang tidak tahan dingin AC. Kalau sekamar sama teman yang suka pakai AC suhu rendah aku bakal kedinginan. Maklum, wong ndesa Maospati yang lebih nyaman dengan dinginnya angin alami lereng gunung Lawu ❄.

Meski tempat tidur ada dua, aku hanya menempati satu yang dekat dinding kaca. Apakah setelah aku check-out nanti, kasur satunya tetap dibersihkan/diiganti sprei? 😄


Pemandangan kota Jakarta dari kamarku


Hari pertama, Kamis (12/03), kami yang berpuasa Ramadan dapat sekali makan malam/berbuka, sementara yang tidak berpuasa dipersilakan makan siang juga.


Sahur pertama


restoran Kicir-Kicir, Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk
Sahur pertama di Restoran Kicir-Kicir


Jadi begini rasanya makan sahur di hotel di sela kegiatan ekonomi kreatif. Seru tapi tetap khidmat. (Iftar pertama semalam, makanan disediakan di depan Batavia Ballroom, tidak di resto.)

Jam 8 pagi, back to work di Batavia Ballroom.


Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta
Kerja di hotel

Jam 12 sampai jam 1, istirahat shalat zhuhur.

Jam 1, balik kerja lagi, sampai tiba waktu berbuka. Setelah shalat maghrib dan sebelum berbuka, eh nggak nyangka ketemu Mbak Novia Erwida dari Sumatra Barat. Bertahun-tahun hanya saling kenal nama di media sosial, sekarang ketemu juga di sini. Foto dulu buat kenang-kenangan.


Novia Erwida
Selfie dengan Mbak Novia Erwida yang terkenal itu

Lalu tiba waktu berbuka, maghrib.


Batavia Ballroom, Hotel Santika Premiere Hayam Wuruk Jakarta
Alhamdulillah


(Bersambung di bagian 2)


Comments