(Bagian 2 dari catatan perjalanan ini.)
Hari kedua di kegiatan lokakarya naskah STEM, berbuka di Batavia Ballroom.
![]() |
| kudapan takjil |
Sebelum berbuka, panitia menutup rangkaian kegiatan lokakarya. Jadi, yang mau pulang lebih cepat, dipersilakan. Tapi kami masih boleh menikmati sekali makan sahur esok (Sabtu, 14/03)
Betty pamit pulang duluan, anaknya kurang sehat. Hati-hati di jalan, bestie.
Aku dan teman-teman lain melanjutkan sisa waktu istirahat di kamar. Sementara Maria Lubis merencanakan besok pagi akan jalan-jalan keluar hotel usai makan sahur, pikiranku mencari bentuk naskah yang harus dikumpulkan selambatnya tanggal 25 (5 hari setelah lebaran). Tapi besok aku tetap mau ikut jalan-jalan.
Sabtu, 14 Maret 2026
Bangun jam 2 dini hari, bersiap makan sahur di Restoran Kicir-Kicir. Mbak Ina Inong mengetuk pintuku dan kupersilakan masuk. Selanjutnya kami turun dan makan sahur bersama. Aku lupa memotret makan sahurku, tidak apalah, kurang lebih masih sama seperti kemarin. Usai bersahur, sebelum kembali ke kamar masing-masing, aku mampir ke lobi. Mengambil kue kering pembagian dari panitia untuk semua peserta kegiatan. Alhamdulillah, dapat kaastengels ukuran 500gram. Buat oleh-oleh Bapak di rumah nanti 💗.
Sepertinya sebagian peserta sudah pulang lebih awal, tidak menunggu jam check-out (resto terasa lebih sepi). Aku ngantuk banget, habis sahur mau tiduran dulu sampai sekitar jam 10.
Astaga, aku baru ingat rencana jalan-jalan kemarin. Maria mengingatkan aku via WhatsApp, batal rebahan deh.
Sekitar jam 6 pagi, aku bergabung dengan teman-teman di lobi. Sudah ada empat orang, dua di antaranya Maria, dan Assyifa Nurhalimah yang sama-sama berasal dari Bandung. Namanya juga cukup dikenal di komunitas penulis buku anak, dan rupanya dia juga sudah tahu namaku--ha-ha). Dua lainnya adalah Isti Arbaniah dari Kubu Raya (Kalbar) dan Mia Wahyuningsari dari Bogor.
Maria berinisiatif memanggil GoCar, kami berlima pun naik. Hanya beberapa menit kami sudah sampai di Kota Tua Jakarta. Jalanan sepi, mungkin karena penduduk ibukota sudah pada mudik.
![]() |
| Meriam Si Jagur |
Sampai di Kota Tua juga agak sepi, hanya tampak beberapa anak main bola dan bersepeda. Ada beberapa orang jogging.
Maria yang sudah sering kemari jadi pemandu bagi kami, selain juga kami ngobrol tentang apa saja sekenanya. Ah, begitu banyak spot menarik yang aku ingin potret, tapi kapasitas hp-ku makin menipis. Baiklah, bulan depan, bulan depannya lagi, atau tiga bulan lagi, aku ke sini lagi bawa kamera bagus ya.. kayaknya aku harus menjelajah ibukota lebih lama lagi.
![]() |
| Ki-ka: Assyfa Nurhalimah, Isti Arbaniah, Maria Lubis, Mia Wahyuningsari |
Berapa lama kami jalan-jalan sekadar mengisi sisa waktu? Yah.. mungkin kurang dari sejam. Kami harus kembali ke hotel. Oh ya, aku juga selfie berdua saja dengan Maria, buat laporan ke Mbak Vita Ellyati xixixi...
![]() |
| with Maria Lubis |
Lanjut motret apa saja yang kurasa unik, dengan sisa ruang penyimpanan..
![]() |
| Old Town, Jakarta |
Terima kasih, Jakarta, kita ketemu lagi bulan depan 😂.
![]() |
| Sebelum kembali ke hotel |
Indahnya cuaca Jakarta hari ini. Selamanya indah.
![]() |
| Kapan ke sini lagi? |
Berkemas sebelum balik
Kumaksimalkan waktuku sampai sekitar jam 11 di hotel, ngobrol dengan Syifa dan Maria. Syfa entah dari lantai berapa, teman sekamarnya sudah pulang, lalu dia pindah ke kamar Maria. Mbak Isyani teman sekamar Maria juga sudah pulang. Kami ngobrol bertiga sebelum aku berkemas. Kuminta mereka menungguiku di lobi.
(Hari ketiga di Jakarta, puasaku batal di tengah hari karena perutku tidak nyaman dan aku butuh minum obat 😞. Pola makan kacau dan efeknya agak konstipasi.)
![]() |
| Gambir, H-7 Idulfitri 1447 |
Alhamdulillah, di lobi aku ketemu Mbak Happy lagi, teman seperjalanan berangkat kemarin. Setelah Maria dan Syfa pamit duluan untuk naik Whoosh bareng, aku akhirnya naik GoCar berdua dengan Mbak Happy menuju Stasiun Gambir.
Sampai jumpa lagi, Teman-teman. See you again, soon, Jakarta.
Sekitar jam 3 sore kami tiba di Gambir, aku dan Mbak Happy berpisah. Kami beda kereta. Dia pulang duluan, sementara keretaku Argo Lawu masih malam nanti, jam 9 kurang 1/4.
Aku ingin segera istirahat di coworking space Gambir, tapi baru boleh masuk paling cepat 2 jam sebelum kereta berangkat. Yah, masih lama deh..
Jadi aku menunggu cukup lama di area tengah stasiun. Belum maghrib sudah makan (makan siang kesorean), kan sudah batal puasaku.
Mendekati maghrib, sekelompok Pramuka putra dan putri (remaja) membagikan nasi kotak di sekitar check-in gate. Aku ingin dapat pembagian juga 😁 bukan mau minta-minta juga sih, hanya ingin tahu rasanya dibagi makanan sebagai pejalan jauh.
Jam 7 kurang 1/4 akhirnya aku check-in, alhamdulillah bisa duduk dan makan dengan nyaman di coworking space.
Argo Lawu for the first time
Selanjutnya aku ke mushala yang, wow, rame banget, nyaris penuh area shalatnya. Kurapikan diri sebelum dijemput Argo Lawu yang akan membawaku ke stasiun Solo Balapan.
Jam 9 kurang 1/4 malam, bismillah naik kereta, dan aku banyak tidur sepanjang perjalanan.
![]() |
| Enam jam lima puluh lima menit dari Gambir ke Solobalapan. Menit pertama setelah turun dari gerbong langsung kurekam gambar ini |
Minggu, 15 Maret 2026, jam 03.40 dini hari aku sudah tiba di stasiun Solobalapan, alhamdulillah. Penumpang lain ada yang duduk di area peron sambil makan, mungkin makan sahur. Aku tidak puasa. Perutku belum pulih, jadi aku shalat subuh saja di mushala stasiun.
Tidak seperti di Gambir yang ada tempat penitipan barang di dekat mushala dan gratis, juga tidak seperti penitipan di dekat mushala Surabaya Gubeng yang dikenai ongkos sepuluh ribu rupiah, di Solobalapan tidak ada fasilitas penitipan barang di sekitar mushala. Entah ya, kalau aku keliru. Tapi kucari-cari memang tidak ada. Beberapa koper--termasuk koperku--berjejer di dinding dekat mushala dan kabinet Lost & Found berisi aneka barang (arloji, botol minum, topi, bahkan tas yang tampaknya berisi barang penting!).
Alhamdulillah, koper dan tas bekalku aman.
Aku masih berada di sekitar mushala stasiun Solobalapan sampai kira-kira jam 6 pagi. Sejak awal aku sengaja tidak memesan tiket kereta BIAS paling pagi (dini hari ketika langit masih gelap), karena aku ingin melihat sebagian kota Surakarta di bawah sinar cerah Matahari. Jadi aku pesan tiket yang berangkat agak siang.
![]() |
| Cuaca cerah di Surakarta Sabtu 14 Maret 2026 |
Mau cari sarapan dulu, akhirnya aku mampir ke warung terdekat. Kupesan nasi plus tahu goreng, tempe goreng, dan telur dadar sekadar mengisi perut, dan teh hangat. Sambil sarapan di pekan terakhir Ramadan kupandang sekeliling. Ada Pose In Hotel, minimarket merah favoritku, dan lalu-lalang bus antarkota antarprovinsi yang biasa kulihat juga lewat tidak jauh dari rumah.
Dan setelah sarapan, akhirnya aku menyerah--tidak kuat lagi membawa bawaan sekian berat dan banyaknya (koper, ransel, sling bag, dan kantong isi suvenir dari panitia/Pusbuk). Kuminta bantuan seorang porter berseragam t-shirt hijau berlogo KAI dan ber-blangkon. Bayarnya sesuai tarif yang ditetapkan KAI, dan aku sekalian ditunjukkan bahwa peron kereta BIAS berbeda dari kereta reguler. Oh...
![]() |
| peron KA BIAS |
Aku tidak peduli lagi dengan penampilanku yang kembali berantakan setelah sarapan. Sudah lelah, sudah kangen rumah. Yang penting pakai masker saja, aman. Tapi meski sangat lelah, aku sangat bersyukur atas perjalanan ini.
Ketika aku sampai di peron yang terdekat dengan arah kedatangan kereta BIAS, suasana di sekitarku masih sepi, kurang dari sepuluh orang termasuk aku. Tapi mendekati jam keberangkatan (ke arah timur--Ngawi, Magetan, Madiun), amboi penumpang banyak kali..
Alhamdulillah aku dapat tempat duduk.
Dan kereta BIAS mengantarku sampai di stasiun dekat rumah, tepat waktu. Setelah aku turun, kereta masih melanjutkan perjalanan ke Stasiun Madiun sebelum kembali ke Bandara Internasional Adi Soemarmo. Aku menghadap ke timur sebelum memotret kereta.
![]() |
| Sampai jumpa lagi! |
Aku menunggu Bapak menjemputku, di parkiran Stasiun Magetan (d.h. Stasiun Barat).
"To travel is to live."
~ Hans Christian Andersen
Epilog
![]() |
| Kaastengels istimewa |
Senin, 16 Maret 2026, aku berbuka dengan secangkir kopi krim dan kaastengels istimewa. Istimewa karena kudapat dari Pusat Perbukuan.

















Comments
Post a Comment
Thank you for visiting 🌻 I'd love to hear your thoughts here